History

Kolaborator yang Beruntung, Kolaborator yang Buntung

Kolaborator /ko·la·bo·ra·tor/ n  menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja sama (dengan musuh dan sebagainya). Mungkin kolaborator ini bisa hampir disamakan artinya seperti mata-mata namun perbedaannya adalah kolaborator ini bekerja secara terang-terangan membantu musuh terutama musuh yang menjajah negaranya.

Ada beberapa contoh kolaborator di dunia ini. Contohnya ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk di Eropa, ketika tentara fasis Jerman berambisi untuk menguasai seluruh daratan Eropa, tentara fasis Jerman mengandalkan para Kolaborator ini untuk bisa memuluskan ambisi mereka menguasai negara-negara di Benua Biru. Contohnya adalah seperti Vidkun Quisling dari Norwegia dan Anton Mussert dari Belanda yang membantu tentara fasis Jerman untuk menguasai negara mereka. Bahkan ketika Jerman menguasai negara mereka, mereka menjadi pemimpin bonekanya.

Ketika Dai Nippon berambisi untuk menciptakan Lingkaran Kemakmuran Asia Timur Raya dengan menduduki tetangga-tetangganya seperti Cina, Taiwan, Vietnam, Philipina, bahkan Indonesia juga menjadi sasaran mereka. Tentu saja Dai Nippon membutuhkan kolaborator yang bisa dimanfaatkan untuk membantu usaha mereka dalam merebut hati dan pikiran rakyat di negara yang mereka jajah. Di China tepatnya di Manchuria atau Manchukuo, Dai Nippon mengangkat Kaisar terakhir dinasti Qing yang pernah dipaksa turun tahta oleh tentara Nasionalis Kuo Min Tang China yaitu Kaisar Aisin Gioro Pu-Yi. Sedangkan di Indonesia, Dai Nippon mengangkat tahanan politik yang cukup keras menentang pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan ketika akan diangkat, status kolaborator itu masih merupakan tahanan rumah yang diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Bengkulu dari tahun 1936. Kolaborator itu bernama Ir. Soekarno.

Pu Yi, Kaisar Boneka Dai Nippon dari Manchukuo

Kaisar Pu Yi adalah satu-satunya kaisar Cina yang mengenakan busana barat ketika berkuasa.
Kaisar Pu Yi adalah satu-satunya kaisar Cina yang mengenakan busana barat ketika berkuasa.

Kaisar Aisin Gioro Pu-Yi diangkat menjadi kaisar Manchukuo pada tanggal 1 Maret 1932. Selama masa pemerintahannya, dia tidak bisa sepenuhnya menjadi kaisar Manchukuo karena sejatinya ia hanya digunakan Dai Nippon sebagai alat untuk men-Jepang-kan Manchukuo. Gerak-gerik Pu Yi selalu diawasi oleh bala tentara Dai Nippon. Yang ia lakukan setiap hari hanya membacakan doa agama Shinto dalam bahasa Cina, melakukan kunjungan-kunjungan, dan meratifikasi undang-undang yang telah disiapkan oleh Dai Nippon seperti penggunaan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Manchukuo.

Soekarno, Bekerja Sama dengan Dai Nippon demi Kemerdekaan Indonesia

Sepertinya agak tidak masuk akal apabila memilih jalan bekerja sama dengan musuh demi meraih kemerdekaan karena bagaimanapun juga apabila sebuah negara menjajah negara lain, pasti tidak ada niatan sedikitpun untuk melepaskan jajahannya apabila tidak dengan sangat terpaksa. Untuk apa mengorbankan ribuan jiwa tentara apabila ujung-ujungnya akan dilepaskan jua. Apabila bung Karno memang berniat memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajahan, seharusnya beliau masih aktif berjuang seperti yang ia lakukan pada masa Hindia Belanda dahulu, bukan malah bekerja sama dengan musuh. Mengapa beliau berani bertaruh sebesar itu. Untungnya Jepang kalah perang. Apakah hasil akirnya akan sama seperti yang diharapkan bung Karno apabila Jepang memenangkan Peperangan Asia Timur Raya?

Bung Karno sedang berpose di depan kamera  untuk sebuah iklan propaganda yang isinya mengajak warga Indonesia untuk menjadi romusha.
Bung Karno sedang berpose di depan kamera untuk sebuah iklan propaganda yang isinya mengajak warga Indonesia untuk menjadi romusha.

Bung Karno juga mengalami nasib yang sama seperti Pu Yi, ia diminta melakukan serangkaian aktivitas yang telah disiapkan oleh Dai Nippon. Salah satu dari aktivitas tersebut adalah pembuatan film propaganda untuk menggalang dukungan dari warga Indonesia agar bersedia bekerja sebagai Romusha.

Romusha (労務者) secara harfiah artinya adalah buruh atau pekerja. Memang betul bahwa pada zaman pemerintahan Dai Nippon terdahulu, tidak ada paksaan untuk menjadi romusha. Menurut buku Kuasa Jepang di Jawa yang ditulis oleh Aiko Kurasawa, sebagian besar orang mendaftarkan diri mereka untuk menjadi romusha. Sebagian lagi terpaksa menjadi romusha karena pada awalnya mereka ingin melamar sebagai Heiho, namun karena lowongan sudah penuh terisi, mereka terpaksa mendaftarkan diri sebagai romusha karena tidak ada pilihan lain. Para romusha pun juga mendapat gaji walaupun tidak besar dan fasilitas lain seperti perawatan kesehatan, makan, dan akomodasi. Namun karena kondisi kerjanya yang memprihatinkan, akhirnya makna romusha ini bergeser dari buruh menjadi pekerja paksa.

Nasib Para Kolaborator Setelah Perang Pasifik Berakhir

Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Dai Nippon dan mengirimkan tentaranya untuk membantu Amerika Serikat dengan menyerang Dai Nippon dari wilayah Soviet di Timur Jauh. Pada tanggal 16 Agustus 1945, Kaisar Pu Yi ditangkap oleh tentara Soviet ketika hendak kabur ke Jepang. Malamnya karena tidak ada satupun tentara sekutu yang mendarat di Jawa, para pemuda menculik Ir. Soekarno dan membawanya ke Rengasdengklok untuk memintanya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itupun bung Karno masih ragu untuk menuruti permintaan para pemuda karena Kaisar Hirohito menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Mungkin Bung Karno berharap bahwa dirinya bisa seperti Raja Norodom Sihanouk dari Kamboja yang bisa kembali naik tahta setelah Jepang mengabulkan kemerdekaan Kamboja pada tanggal 9 Maret 1945. Akhirnya sehari kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945 yang saat itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Sementara kaisar Pu Yi menjalani hukuman 10 tahun sebagai penjahat perang karena kontribusinya selama masa pendudukan Dai Nippon di Manchukuo. Ia harus menjalani pendidikan ulang karena selain dituduh sebagai penkhianat, ia juga dituduh sebagai kontra revolusioner oleh pemerintah Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong.

Sedangkan Bung Karno yang telah mengirimkan warganya sebagai romusha, bahkan dalam sebuah dialog dengan mahasiswa ketika beliau ditanya perihal romusha, beliau mengatakan

“Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang Panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup….”

Warga Indonesia menyambut Kedatangan van Mook sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 5 Oktober 1942
Warga Indonesia menyambut Kedatangan van Mook sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 5 Oktober 1942

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, bung Karno ternyata bernasib jauh lebih beruntung daripada kaisar Pu Yi karena beliau masih dipercaya untuk memimpin Indonesia dan melanjutkan peperangan melawan Belanda yang sebenarnya oleh sekutu, Belanda merupakan pihak yang sah untuk kembali memimpin nusantara karena Hindia Belanda yang juga merupakan bagian dari sekutu juga sama-sama berperang melawan ancaman Dai Nippon di Asia Tenggara. Bahkan ada pula beberapa warga Indonesia yang mengharapkan Belanda berkuasa lagi di tanah air.

Sebenarnya seperti kolaborator lainnya, Belanda bisa saja menangkap Bung Karno dan menyerahkannya kepada mahkamah internasional untuk diadili sebagai penjahat perang karena ia telah terbukti mengirimkan rakyatnya sendiri ke untuk menjadi romusha dan banyak dari mereka yang tidak kembali setelah dikirim tentara Dai Nippon ke bagian lain dari kekaisaran Dai Nippon. Sebagian besar banyak pula yang meninggal ketika membangun jalur kereta api kematian di Myanmar.

Tapi berbeda dengan Kaisar Pu Yi yang tetap menikmati kebebasan setelah lepas dari penjara pada tahun 1959, bung Karno malah kembali terkurung menjadi tahanan rumah setelah peristiwa G 30 S yang memaksanya turun tahta. Akhirnya ia bernasib seperti tahanan hingga akhir hayatnya pada tanggal 21 Juni 1970.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s