History

Relativitas Kemerdekaan. Refleksi Perang Revolusi Indonesia dan Amerika Serikat

70 tahun sudah Indonesia memerdekaan diri dari Pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintah Belanda yang menjadikan warga pribumi sebagai warga kelas rendah menyebabkan tokoh-tokoh seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dan tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya menegakkan perlawanan menentang kolonialisme. Keluar masuk penjara sudah menjadi hal biasa bagi pahlawan kemerdekaan kita ini. Walaupun demikian, di mata Kerajaan Belanda, para tokoh pro kemerdekaan ini adalah pemberontak. Yang namanya pemberontakan berarti melawan institusi yang berwenang pada saat itu. Barulah setelah pemberontakan itu berhasil, ia bisa mengganti gelarnya sebagai seorang pahlawan. Berubah dari figur yang dicaci menjadi figur yang dipuji.

Begitu pula dengan tokoh kemerdekaan lainnya seperti George Washington, Simón Bolívar, Miguel Hidalgo, Mahatma Gandhi, dan tokoh kemerdekaan terkenal lainnya, nama-nama terkenal tadi juga merasakan penderitaan serupa ketika berusaha memerdekakan bangsanya. Nyawa menjadi taruhannya, tapi hasil yang mereka peroleh lebih besar daripada yang mereka korbankan. Kemerdekaan bangsanya.

Namun tidak semua orang menikmati kemerdekaan dan kemenangan yang selalu kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus ini. Saya tidak membicarakan tentang kondisi ekonomi maupun ketidakadilan sosial yang menimpa rekan setanah air kita yang selalu dihubungkan dengan kurang meratanya hasil kemerdekaan. Namun pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang orang-orang yang berada di sisi yang salah pada saat kemerdekaan dikumandangkan.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, berdasarkan sensus yang dibuat pada tahun 1930, di Hindia Belanda hanya terdapat sekitar 100.000 ribuan warga Belanda yang bernaung di Hindia Belanda sebagai pegawai pemerintah baik sipil maupun militer. Sepertinya tidak mungkin 100.000 ribu warga tadi bisa mengontrol 60 juta warga Hindia Belanda tanpa adanya bantuan dari warga pribumi. Itulah sebabnya pada masa kolonial dahulu, banyak juga warga pribumi yang bekerja sebagai pegawai pemerintah baik sipil dan militer. Terkadang para pejuang yang melawan pemerintah Hindia Belanda seperti Kerajaan Aceh dan Kerajaan Bali harus berhadapan dengan sesama penduduk pribumi ketika masa penjajahan dahulu.

Kisah Orang Semarang yang Menjadi Polisi Belanda Pada Masa Kolonial hingga Kemerdekaan

Pada bulan Agustus 2013, saya mendatangi sebuah pameran bertajuk Kuno Kini Nanti yang diselenggarakan di Gedung Spiegel di kawasan Kota Lama Semarang yang diadakan oleh komunitas penggiat sejarah Lopen Semarang. Pameran ini memamerkan berbagai macam koleksi tentang bagaimana wajah Semarang pada masa Hindia Belanda dahulu. Artifak yang mereka pamerkan antara lain peta kuno, buku-buku penyuluhan, buku telepon, perabot-perabot antik yang digunakan pada masa kolonial dahulu.

Di sana, aku melihat ada sepasang muda-mudi yang wajahnya seperti orang Indonesia tapi perawakannya bongsor dan kulitnya putih seperti orang Eropa. Walau rambut mereka masih hitam, namun saya yakin mereka bukan orang Indonesia. Mereka berdua sedang melihat sebuah peta kota Semarang pada tahun 1940. Aku merasa heran mengapa mereka bisa sebegitu tertarik dengan peta itu. Karena penasaran, aku menyapa mereka. Rupanya mereka adalah kakak-beradik yang datang dari Belanda. Mereka hanya sedang jalan-jalan saja di Kota Lama dan mereka beruntung sekali bisa berada di pameran tersebut. Ternyata mereka sedang mencari Jl. Sompok karena kakek-nenek mereka dahulu tinggal di sana.

Aku lupa nama kedua orang ini, namun yang jelas, kakek-nenek mereka adalah orang Indonesia asli. Orang Semarang asli. Mereka bekerja sebagai polisi Belanda pada masa kolonial terdahulu. Sebagai seorang polisi, ia pasti meyakini bahwa apa yang dia bela dan yakini adalah benar. Bahwa Pemerintahan Belanda yang menggaji mereka ini adalah pemerintahan yang resmi dan sah. Pemerintah yang harapannya akan bertahan hingga 300 tahun lamanya seperti harapan Gubernur Jendral B. C. de Jonge. Mereka tidak mengharapkan bahwa Pemerintah Kolonial akan tamat riwayatnya pada tahun 1945. Tapi apa boleh dikata, Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan Perang Kemerdekaan selama empat tahun lamanya hingga tahun 1949. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda, kakek-nenek mereka dipaksa pindah ke Digul (kini Papua) yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan Belanda. Namun pada tahun 1962, Operasi Trikora dilancarkan dan Digul menjadi bagian dari NKRI yang kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya. Ada yang mengatakan bahwa Irian adalah sebuah akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah singkatan itu benar atau salah.

Untung tak dapat diterima, malang tak dapat ditolak. Akhirnya kakek-nenek muda-mudi Belanda tadi harus kembali mengungsi ke Belanda dan disitulah mereka menetap hingga akhir hayatnya. Orang Jawa yang kehilangan kampung halamannya karena berada di sisi yang salah pada masa kemerdekaan. Siapa yang bisa menyalahkan mereka? Setiap orang berhak meyakini apa yang mereka percaya benar. Dan bagi kakek nenek mereka, mengabdi kepada pemerintah Belanda lah yang benar! Tapi itulah harga yang harus dibayar oleh mereka karena kesetiaan mereka terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Kakek-nenek mereka tidak mau bercerita apa-apa lagi tentang Indonesia. Sepertinya apa yang mereka rasakan pada masa revolusi kemerdekaan dan pertempuran Trikora sangat pahit dan menyedihkan.

Kini rumah kakek-nenek tempat mereka dulu tinggal di Semarang sudah berubah menjadi Rumah Makan Spesial Sambal di kawasan Sompok, Semarang. Ketika mereka berdua mengunjungi rumah kakek-nenek mereka, mereka benar-benar kagum karena pihak Spesial Sambal masih mempertahankan keaslian dari bangunan tersebut. Rumah yang mereka kunjungi itu persis seperti yang kakek-nenek mereka deskripsikan dan Spesial Sambal tidak merubah apapun dari bangunan itu. Walau hanya secuil tegelpun tidak mereka ubah.

Kisah Kaum Loyalis Inggris setelah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat

Loyalis Inggris di Amerika Serikat
Loyalis Inggris di Amerika Serikat

Kaum loyalis adalah mereka yang masih setia terhadap Kerajaan Inggris. Ternyata nasib sial juga menimpa para kaum Loyalis di Amerika setelah Amerika mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 4 Juli 1776. Pertempuran demi pertempuran masih saja terjadi setelah menyerahnya Tentara Inggris pimpinan Cornwallis pada tahun 1781. bahkan sebuah sumber mengatakan bahwa salah satu pertempuran hebat antara kaum loyalis dan revolusionaris. Kaum revolusionaris sering merampok, menjarah dan merusak properti milik kaum loyalis.

Menurut Profesor Sejarah dari Harvard, Maya Jasanoff, kaum loyalis saat itu jumlahnya diperkirakan mencapai 15-20% dari keseluruhan penduduk. Mereka juga sering mendapat perlakuan semena-mena dari kaum revolusionaris Seperti terlihat pada gambar.

Akhirnya karena merasa terancam, banyak dari kaum loyalis meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Inggris atau pergi ke koloni Inggris lainnya. Banyak juga dari para pengungsi ini yang kemudian menjadi pemukim perintis di Nova Scotia dan New Brunswick Kanada.

Kemerdekaan dan Kemenangan Hanya Sebuah Relativitas

Kita hanya beruntung hidup di masa yang tenang dan damai seperti saat ini. Namun semangat memisahkan diri dari NKRI juga terus merebak di berbagai provinsi di tanah air. Tidak terkecuali di provinsimu. Apabila hal ini akhirnya terjadi di provinsimu, provinsimu menuntut untuk memerdekakan diri dari Indonesia, kira-kira di sisi mana kamu akan berada? Loyalis kah? Atau pemberontak? Apabila kamu memilih menjadi loyalis, sudah siapkah menerima resiko apabila provinsimu akhirnya merdeka? Apabila memilih menjadi pemberontak, sudah siapkah apabila pemberontakanmu ditumpas tuntas oleh TNI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s