History

Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Stasi

Mungkin sebagian diantara kalian pernah membaca pengalaman buruk yang dialami oleh orang Indonesia bernama Parlindoengan Loebis yang ditulis dalam bukunya berjudul Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi. Ternyata tidak hanya beliau saja yang tertimpa nasib buruk. Bahkan setelah aku membaca bukunya, apa yang dia alami di kamp konsentrasi Nazi sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Beliau adalah seorang dokter. Walaupun beliau berasal dari ras yang dianggap inferior oleh rezim fasis Jerman kala itu, namun dokter mendapat tempat yang khusus di masyarakat Jerman apapun rezimnya.

Berbeda dengan yang dialami oleh Kuo Xing-hu. Beliau adalah orang Indonesia yang dikirim untuk sekolah ke Jerman Timur yang pernah dipenjara dan disiksa oleh Stasi, polisi rahasia Jerman Timur. Stasi yang merupakan kependekan Staatssicherheit yang berarti keamanan negara adalah sebuah kementerian yang bertugas untuk menjadi pedang dan tameng bagi partai persatuan sosialis yang saat itu merupakan satu-satunya partai di Jerman Timur yang berhaluan sosialis-komunis.

Stasi memiliki anggota sampai 180.000 orang yang bertugas untuk mengawasi setiap gerak-gerik warga Jerman Timur yang dianggap sebagai musuh sosialis. Mereka bisa saja aktivis perdamaian, pemuka agama atau bahkan seniman! Untuk lebih detailnya mungkin kamu bisa menonton film The Life of Others.

Namun pada kesempatan ini, aku ingin menceritakan pahitnya pengalaman bapak Kuo Xing-hu yang aku ambil dari tulisan Rukardi Achmadi, seorang pemimpin redaksi harian Cempaka di Semarang yang pernah mendapatkan kehormatan untuk mewawancarai pak Kuo. Berikut adalah artikel yang ditulis oleh Mas Ru:

Jalan Berliku Kuo Xing-hu

***
Pada 1957 Kuo Xing-hu beroleh beasiswa di Universitas Karl Marx Jerman Timur. Tapi demi melihat praktik komunisme di negeri itu, dia membelot hingga ditangkap polisi rahasia dan dijebloskan ke penjara Bautzen. Setelah bebas, anak tokoh Baperki, Kwee Kek Beng, ini tak bisa pulang ke Indonesia. Dia yang telah menjadi antikomunis tetap masuk dalam daftar tangkal pemerintah Orde Baru.

***
Suatu malam, pada akhir bulan Mei, seorang kakek bertubuh rapuh berdiri di belakang pintu Hotel Ciputra, Semarang. Sembari berbincang dengan manajer hotel, matanya tak henti menyensor orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Saat melihat saya masuk dengan menggenggam koran, ia sigap menyambut dengan senyum dan jabat tangan.

“Saya Pak Kuo, Anda dari Suara Merdeka, kan?” sapanya ramah.
Setelah berbasa-basi sejenak, kami memilih kursi yang kosong di lobi. Dan perbincangan pun dimulai. Kuo Xing-hu atau Kwee Hin Houw, nama panjang lelaki itu, datang jauh-jauh dari Sindelfingen, Jerman. Ia mengaku dolan ke Semarang untuk sekadar jalan-jalan.

“Tadi pagi saya membaca berita di koran Anda, tentang seorang kakek yang memulai perjalanan keliling dunia dengan mengendarai sepeda motor. Bagi saya, itu luar biasa. Kalau si kakek nanti sampai di Jerman, silakan mampir ke rumah saya. Dia boleh beristirahat, makan dan minum gratis sepuasnya,” ujar lelaki 70 tahun itu, membuka perbincangan.

Sampai di sini, saya merasa belum memperoleh angle menarik dari lelaki bertubuh kecil yang mengundang Suara Merdeka untuk melakukan wawancara itu. Informasi awal yang saya terima, Kuo adalah warga Semarang yang sudah lebih dari 50 tahun meninggalkan kotanya dan telah menetap di Jerman. Kedatangannya kali ini untuk tilik kampung halaman. Saya pun mengonfirmasikan hal itu kepadanya. Namun, di luar dugaan, Kuo justru menyangkal.

“Benar dulu saya berasal dari Indonesia, tapi di Jakarta, bukan Semarang. Saya pernah ke Semarang waktu masih kecil, diajak ayah saya. Tapi kenangan saya terhadap kota ini tidak banyak.”

Saya jadi merasa gamang untuk meneruskan wawancara dengannya. Tapi, sekali lagi saya masih mencoba mencari kemungkinan lain dari jawaban Kuo.

“Ayah Anda orang Semarang?

”Bukan, ayah saya dari Jakarta, namanya Kwee Kek Beng,” tukas Kuo.

”Klik”, demi mendengar nama yang dia sebut, tiba-tiba saya merasa beroleh energi untuk melanjutkan wawancara. Perlu diketahui, selain anggota Baperki, Kwee Kek Beng adalah salah seorang pemimpin redaksi Harian Sin Po, surat kabar peranakan berhaluan progresif yang terbit antara 1910-1965. Sin Po adalah koran yang kali pertama memuat teks lagu ”Indonesia Raya” dan turut memelopori penggunaan istilah ”Indonesia” sebagai pengganti ”Hindia Belanda”. Saya mencoba menggali lebih dalam ihwal lelaki yang duduk di hadapan saya ini.

Satu hal yang paling menggelitik, tentu saja alasan kepergian dia ke Jerman. Adakah terkait silang-sengkarut politik Indonesia pada tahun 1960-an? Saya pancing Kuo untuk bercerita tentang hal itu. Semula sang kakek terlihat ogah-ogahan, namun perlahan-lahan dia mulai membuka tabir masa lalunya yang muram.

”Awalnya saya meninggalkan Tanah Air karena alasan studi. Tahun 1957 saya mendapat bea siswa untuk kuliah di Fakultas Jurnalistik Universitas Karl Marx di Leipzig, Jerman Timur.”

Ia memilih jurnalistik karena sedari kecil telah tertarik dengan tulis-menulis, dunia yang digeluti ayahnya. Umur 13 tahun, Kuo telah membaca surat kabar-surat kabar yang terbit di Tanah Hindia, baik yang berbahasa Melayu maupun Belanda. Kuo juga mulai menulis. Buah pemikirannya dimuat Sintjun, majalah yang diterbitkan oleh Kwee Kek Beng.

Selama di Leipzig, Kuo tak hanya kuliah, namun juga melakukan aktivitas lain, seperti mengalihbahasakan ”Cerita dari Blora”-nya Pramudya Ananta Toer, mengajar Bahasa Indonesia di almamaternya, serta menulis buku Bahasa Indonesia untuk orang Jerman Timur.

Sejenak Kuo berhenti. Diseruputnya teh panas dalam wadah cangkir yang sedari tadi teronggok di atas meja. Setelah menghela napas, lelaki keturunan Tionghoa itu meneruskan ceritanya.

”Seperti namanya, Universitas Karl Marx mendidik mahasiswa dengan doktrin marxisme. Tidak hanya dari Jerman, banyak mahasiswa dari belahan dunia lain yang belajar di sana. Ibarat menimba ilmu langsung dari sumbernya.”

Tak hanya teori, para mahasiswa asing seperti dia bisa melihat langsung praktik komunisme yang diterapkan di Jerman Timur. Namun, alih-alih menebal, ideologi Kuo justru terkikis. Ia merasa ada ketimpangan besar antara teori yang dipelajari dengan kenyataan di lapangan. Sehari-hari, Kuo menyaksikan antrean panjang warga untuk memperoleh barang kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan sekotak garam seharga 16 sen, misalnya, mereka terkadang harus menempuh perjalanan sejauh 200 km dengan ongkos 32 DM.

Stok barang langka, sementara warga amat membutuhkannya. Mereka yang ingin membeli sebuah mobil, harus melalui daftar tunggu yang lamanya bisa mencapai 18 tahun.

”Waktu lihat antrean warga di Indonesia untuk mendapatkan minyak tanah dan BLT (bantuan langsung tunai-Red), saya teringat suasana Jerman Timur dulu,” ujarnya.

Menyaksikan kondisi semacam itu, Kuo gelisah. Namun politik pemerintah yang represif tak memberi kesempatan kepada seseorang, terlebih mahasiswa asing seperti dia untuk melakukan protes secara verbal. Tak tahan, Kuo lalu menjalin kontak-kontak rahasia dengan kelompok oposisi. Dia berdiskusi dan bertukarpikiran seputar kondisi rakyat Jerman Timur di bawah rezim komunis.

Semula aktivitas itu berjalan lancar, namun intel-intel pemerintah yang sangat sensitif berhasil mengendusnya. Tanggal 31 Januari 1965, sebanyak 15 anggota Polisi Rahasia atau biasa disebut Stasi, menciduk Kuo. Dia dituduh sebagai mata-mata yang menyuplai informasi kepada Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA).

***

Malam kian larut. Alih-alih sepi, suasana lobi Hotel Ciputra Semarang justru semakin ramai. Seorang perempuan penyanyi diiringi pianis laki-laki menghangatkan suasana dengan alunan tembang-tembang berirama jazzy. Bagi kami yang tengah berwawancara, musik yang semestinya menghibur itu justru mengganggu. Agar komunikasi berlangsung lancar, Kuo Xing-hu mengajak saya mencari tempat yang lebih tenang.

”Maaf, gendang telinga saya rusak. Agar bisa mendengar, saya menggunakan alat bantu. Ini salah satu kenang-kenangan dari penjara dulu,” ujar Kuo, sambil membetulkan letak duduknya.

Ya, akibat aktivitas politik yang ia lakukan, Kuo pernah merasakan ganasnya penjara politik di Jerman Timur. Penjara yang tidak saja membuat fisiknya menderita, namun juga trauma.

Alkisah, setelah diciduk aparat Stasi pada 31 Januari 1965, Kuo dibawa ke sebuah ruang tahanan bawah tanah untuk menjalani interograsi. Tak tanggung-tanggung, proses pemeriksaan itu berlangsung selama 18 bulan dengan disertai kekerasan fisik dan mental.

Setelah itu Kuo dihadapkan ke pengadilan. Namun menurutnya, sistem peradilan di Jerman Timur saat itu tidak fair. Di ruang sidang hanya ada seorang hakim, seorang jaksa, seorang panitera dan sejumlah anggota polisi rahasia.

Ia sebagai terdakwa tidak didampingi pengacara atau diberi hak untuk membela diri. Para saksi diperiksa secara terpisah. Kesaksian mereka hanya dibacakan dalam sidang yang tertutup untuk umum itu.

”Belakangan, setelah Jerman bersatu pada 1990, terungkap adanya dokumen intelijen setebal puluhan ribu halaman yang berisi laporan terkait aktivitas politik saya. Dokumen itu disusun oleh Stasi dari hasil interograsi orang-orang di sekitar saya,” paparnya.

Seperti telah diduga, hakim akhirnya memutus Kuo bersalah karena melakukan aktivitas spionase dengan memasok informasi rahasia kepada CIA. Untuk itu dia harus menjalani hukuman selama 7 tahun 6 bulan di dalam penjara. Dalam hati ingin menyangkal tuduhan itu, namun apa daya, Kuo tak diberi kesempatan melakukannya.

”Sungguh, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan itu. Saya memang tidak sepakat dengan sistem politik di Jerman Timur, tapi hal itu hanya saya ungkapkan dalam diskusi-diskusi tertutup dengan orang-orang yang berpandangan serupa.”

Sejak vonis dijatuhkan, Kuo resmi menjadi penghuni penjara, yang belakangan ia ketahui berada di Bautzen, kota kecil di dekat perbatasan Cheko dan Polandia. Itu penjara khusus untuk menampung tahanan politik, baik pada masa rezim fasis Nazi maupun Pemerintahan Sosialis Jerman Timur. Keangkeran penjara Bautzen amat tersohor. Penjara dengan 150 sel itu lebih menyerupai kamp konsentrasi ketimbang rumah tahanan. Tak heran jika banyak ”musuh-musuh negara” yang menemui ajalnya di sini.

Di Penjara Bautzen, Kuo ditempatkan di sebuah sel isolasi. Sehari-hari ia menjalani kerja paksa sendiri, tanpa teman narapidana lain. Kuo harus membuat alat-alat listrik yang hasilnya disetor ke pabrik-pabrik di Jerman Timur.

Kondisi di dalam penjara amat buruk. Sel isolasinya gelap, tanpa penerangan yang memadai. Ruangan itu juga bising oleh raungan mesin pembuat alat listrik. Di sisi lain, para penjaga bersikap garang. Jika ada tahanan yang dianggap salah, mereka tak segan-segan melakukan penyiksaan fisik dan mental.

Pada musim dingin ruang tahanan di Bautzen tidak dilengkapi alat penghangat. Pihak otoritas penjara juga tidak menyediakan pakaian yang pantas kepada para tahanan. Akibatnya banyak di antara mereka yang jatuh sakit, atau bahkan meninggal.

Tahanan yang sakit tidak beroleh perawatan memadai. Kuo yang jelas-jelas mengidap diabetes melitus, misalnya, tidak mendapat suntikan insulin. Meski berkali-kali memohon, hormon itu tak pernah diberikan. ”Saya merasa hendak dibunuh perlahan-lahan,” kata Kuo datar, namun dengan suara bergetar.

Di penjara Bautzen, tahanan tidak boleh bertemu siapa pun selain petugas jaga. Mereka masing-masing ditempatkan dalam sebuah sel khusus, dan tidak boleh berkomunikasi satu sama lain. Satu-satunya media komunikasi yang diperbolehkan adalah surat. Sesuai aturan, tahanan politik mendapat kesempatan berkirim surat kepada orang terdekat. Surat itu harus ditulis di atas selembar kertas folio dalam Bahasa Jerman. Materinya tidak boleh menyinggung tentang situasi dan kondisi di dalam penjara. Untuk itu petugas melakukan sensor ketat. Kendati demikian dalam praktiknya, surat-surat yang lolos sensor pun jarang dikirimkan.

Suatu ketika, Kuo mendengar suara ketukan berulang-ulang di salah satu sisi dinding selnya. Semula ia hirau. Namun karena sering, Kuo mulai memperhatikannya. Lelaki bertubuh kecil itu akhirnya mengerti bahwa ketukan-ketukan di dinding tersebut merupakan sandi yang dikirim oleh tahanan politik yang menghuni sel sebelah.

”Setelah mempelajari sekian lama, saya akhirnya memahami kode-kode ketukan di dinding itu. Kami kemudian bisa saling berkomunikasi. Orang di sel sebelah ternyata tahan politik asal jerman Barat bernama Robert Axt.”

Selain memperkenalkan diri, Kuo juga mengirim pesan kepada Robert. Jika lebih dahulu keluar dari penjara, dia minta agar penghuni sel sebelah itu menginformasikan keberadaannya kepada media massa di Jerman Barat. Benar saja, Robert Axt bebas lebih awal dan segera menyampaikan amanat Kuo. Pemberitaan tentang dia pun muncul di media massa. Pemberitaan itu ternyata berdampak baik terhadap nasib Kuo.

”Setelah itu tekanan dari petugas penjara sedikit berkurang. Mereka mulai memberi insulin dan mengirimkan surat-surat saya ke Indonesia dengan lancar.”

Tanggal 30 Mei 1972, atau dua bulan sebelum masa tahanannya habis, Kuo dibebaskan oleh Pemerintah Jerman Barat. Sebagai ganti jaminan, mereka membayar 40.000 Mark Jerman Barat.

Kuo masih dapat mengingat dengan baik proses pembebasan itu. Dengan pengawalan Stasi, ia dibawa ke perbatasan menggunakan Mercedes Benz seri 280. Tepat di tengah jembatan Kuo diserahkan kepada seorang aparat dari Jerman Barat.

”Prosesnya persis seperti adegan dalam film-film spionase itu.”

Selepas dari penjara, Kuo harus menjalani perawatan intensif selama enam pekan di sebuah rumah sakit di Jerman Barat. Siksaan fisik dan mental yang dialami di dalam penjara membuat ia sakit. Diagnosis dokter menyebutkan lelaki keturunan Tionghoa itu mengalami gangguan psikis, sakit ginjal dan diabetes akut. Selain itu ia mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan serius. Sejumlah giginya juga kedapatan tanggal.

***

Lepas dari “neraka” Bautzen, Kuo merasa bimbang. Maksud hati ingin kembali ke Tanah Air, situasi politik saat itu tidak memungkinkan. Orde Baru yang berkuasa sejak 1966 menangkal orang-orang yang dianggap kiri di luar negeri. Dia, meski telah antikomunis, tetap masuk dalam daftar tangkal itu. ”Setelah menjalani perawatan selama enam pekan di rumah sakit, saya tinggal di kamp pengungsi. Bosan menganggur, saya mencoba mencari pekerjaan. Tapi masalahnya, di Jerman Barat saya tidak punya kenalan.”

Di tengah kebingungan, Kuo teringat Robert Axt, kawan senasib di Penjara Bautzen yang telah membantu menyampaikan pesannya ke media massa di Jerman Barat. Namun, untuk menemukan Robert bukan persoalan gampang. Jangankan alamat dan nomor telepon, seperti apa wajahnya dia tak tahu. Sebagaimana telah dikisahkan, Kuo mengenal tahanan politik asal Jerman Barat itu melalui sandi ketukan di dinding.

Kata kunci yang dia pegang selain nama adalah kota tempat tinggalnya, yakni Berlin Barat. Dengan data itu, Kuo melacak keberadaan Robert dari buku telepon. Tak sia-sia, usahanya membuahkan hasil. Dia dapat bertemu dengan sang kawan. Dengan relasi Robert Axt, dia bisa bekerja sebagai jurnalis pada harian Die Welt, sebuah surat kabar mainstream milik Axel Springer yang terbit di Jerman. Ilmu jurnalistik yang dipelajari saat kuliah di Leipzig sangat membantu dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Sebagai jurnalis dengan kulit berwarna, eksistensi Kuo sempat dipandang sebelah mata. Rekan-rekan sekerja di Die Welt yang hampir seluruhnya orang Jerman punya sentimen rasial yang lumayan kental. Namun dengan kemampuan dan dedikasinya, Kuo berhasil mematahkan pandangan mereka. Tak hanya itu, setahap demi setahap karirnya terus menanjak. Mulai dari reporter biasa dia akhirnya berhasil menduduki jabatan pemimpin redaksi Die Welt untuk negara bagian Baden Wurttemberg. ”Bagi seorang warga kulit berwarna, itu termasuk jabatan tinggi. Apalagi Baden Wurttemberg yang ber-ibu kota di Stuttgart adalah wilayah penting di Jerman.”

Pada saat hidupnya mulai mapan, Kuo berpikir untuk mencari pasangan. Tak dinyana, sosok idaman itu dia temukan dalam acara pernikahan seorang kawan eks tapol asal Iran. Kuo terpikat oleh seorang gadis manis berdarah Jerman yang berada di antara tamu undangan. Selidik punya selidik, gadis bernama Anita Tykve itu ternyata adalah adik dari mempelai perempuan. Setelah melalui proses pendekatan dan pacaran, Kuo akhirnya mengajak pujaan hatinya ke pelaminan. Tanggal 25 Juli 1974, mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Setahun kemudian lahir sang buah hati yang diberi nama Simon Kuo.

Menikah, punya anak, dan memiliki karir yang bagus, membuat Kuo bahagia. Di sisi lain dia juga merasa betah hidup di Jerman Barat. Maka pada 1975 Kuo memantapkan diri menjadi warga negara itu. Namun, sebetah-betahnya hidup di Jerman, rasa rindu terhadap negeri asalnya Indonesia tak bisa lekang. Untuk mengobati kerinduannya itu, Kuo secara berkala pulang ke tanah air. Selain menjenguk orang tua, teman-teman, dan handai tolan, Kuo juga mengagendakan pelesiran.

Sejak kali pertama pulang pada 1983, lelaki dengan rambut keperakan itu telah mengunjungi banyak kota dan tempat di seluruh Indonesia. Dia pernah ke Jakarta, Bali, Medan, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Terkadang Kuo mengajak Anita dan Simon, namun ada kalanya sendirian. ”Minimal saya pulang ke Indonesia sekali dalam setahun. Kalau ada waktu setahun bisa sampai dua kali.”

Tahun ini, lelaki yang bermukim di Guttenbrunnstrasse 20 D-71067 Sindelfingen, Jerman tersebut, menyempatkan diri berkunjung ke Semarang. Selama beberapa hari dia berkeliling ke tempat-tempat wisata di dalam kota, seperti Museum Ronggowarsito, Kelenteng Sam Poo Kong, Taman Lele, dan Museum Jamu Nyonya Meneer.

”Khusus Museum Jamu Nyonya Meneer, itu ada kaitannya dengan ayah saya. Dulu Ny Lauw Ping Nio atau Nyonya Meneer adalah sahabat ayah. Dia dulu sering memasang iklan produk jamunya di koran Sinpo,” paparnya.

Meski telah pensiun sebagai jurnalis sejak 1997, Kuo tetap aktif menulis. Dia menulis buku dan artikel-artikel untuk sejumlah surat kabar di Jerman. Sedikitnya 14 buku karyanya telah terbit, satu di antaranya ”Ein Chinese in Bautzen” yang berisi tentang pengalaman selama menjadi tahanan Stasi di Penjara Bautzen. Adapun artikel-artikelnya, sebagian terkait dengan persoalan Indonesia. Dia pernah menulis tentang orang-orang Maluku yang tinggal di Belanda, serta konflik di Nanggroe Aceh Darussalam.

Sebagai eks tahanan politik Pemerintah Jerman Timur, Kuo mendapat kompensasi yang besarnya 10 euro dikalikan jumlah hari selama menjalani masa tahanan. Di luar itu dia menerima tunjangan kesehatan 1.500 euro setiap bulan, selama hidup, serta bebas biaya transportasi di seluruh wilayah Jerman. ”Dari uang itulah saya bisa mengunjungi Indonesia, negeri yang selalu ada di hati saya,” ujar Kuo Xing-hu, mengakhiri perbincangan selama hampir empat jam di lobi hotel berbintang empat di kawasan Simpanglima itu.

***

Tulisan ini pernah dimuat di suara merdeka pada tahun 2008. Kisah hidupnya yang mengenaskanpun pernah dijadikan sebagai sebuah buku. Namun sayangnya belum ada bukunya yang dicetak dalam bahasa Indonesia.

Buku Pak Kuo

Semoga bukunya dalam bahasa Indonesia bisa segera terbit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s