Economy and Business · Movie Review

Memutuskan Ingin Bekerja di Bank? Ada Baiknya Menonton Drama Ini Dulu

Tidak biasanya aku suka menonton film drama, tapi tidak untuk drama yang satu ini. Naoki Hanzawa, sebuah drama tentang seorang bankir muda yang menapaki karir cemerlang di bank tempat dia bekerja dengan menyelesaikan tugas-tugas yang luar biasa tidak mungkin untuk dilaksanakan dan lolos dari jeratan jebakan atasannya.

Bekerja di bank. Siapa yang tidak ingin bekerja di bank? Institusi keuangan yang selalu memiliki kantor mewah ini dengan pegawai-pegawainya yang selalu berdandan rapi menarik jutaan pencari kerja di seluruh dunia. Termasuk teman-temanku. Mungkin hampir separuh teman kuliahku kini bekerja di bank. Tapi tidak denganku. Ketika mendapat kuliah Manajemen Lembaga Keuangan, di situlah aku mendapatkan pelajaran pertama mengenai institusi yang dipercaya masyarakat untuk menyimpan uangnya. Apa yang terjadi setelah mengikuti kuliah tersebut? Aku tidak ingin bekerja di bank.

Bank adalah sebuah institusi yang menghimpun dana dari pihak ketiga kemudian memutarkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman.

Alasan mengapa aku tidak ingin bekerja di bank merujuk kepada pengertian bank itu sendiri. Bank adalah sebuah institusi yang menghimpun dana dari pihak ketiga kemudian memutarkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman. Itulah yang teman-temanku di bank kerjakan. Mereka terus-menerus memuntahkan kredit ke masyarakat dengan bunga tertentu yang tentunya bunga itu tadi menjadi keuntungan bagi pemberi hutang atau yang biasa kita sebut sebagai kreditur. Mereka juga harus terus mengawasi sang debitur atau pihak yang berhutang  supaya bisa memenuhi cicilan utangnya sebelum jatuh tempo dan apabila tidak bisa melunasi hutang-hutangnya, makan semua harta benda yang debitur jaminkan untuk memperoleh pinjaman dari kreditur tadi akan disita.

Bank ini sangat krusial sekali peranannya dalam menunjang sebuah perekonomian. Coba bayangkan apabila tidak ada bank? Darimana semua kegiatan perekonomian mendapatkan modalnya? Iya, semua menara gading yang kita lihat di sekitar kita ini sebagian besar didanai oleh bank. Pembangunan gedung dan infrastruktur juga banyak yang dibiayai terlebih dahulu oleh bank dari dana yang dihimpun oleh uang yang disimpan nasabah tadi.

Mungkin hal ini kurang diketahui oleh masyarakat awam mengenai fungsi bank. Itulah sebabnya bank sangat takut apabila terjadi rush atau penarikan uang besar-besaran oleh seluruh nasabah karena bisa saja uang yang ada di dalam bank tidak mencukupi untuk mengembalikan seluruh dana yang disimpan oleh nasabah yang menyimpan uangnya di dalam bank tersebut. Oleh karena itu sebuah bank diminta untuk memiliki rasio kecukupan modal (Credit Adequacy Ratio) sebesar 8%. Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan juga menjamin pinjaman nasabah hanya sampai dua milyar rupiah. Jadi apabila kamu menyimpan uang sebesar lima milyar di sebuah bank, apabila di kemudian hari bank itu bangkrut, maka siap-siap saja untuk kehilangan tiga milyar sisanya.

Dengan alasan di atas, aku jadi merasa tidak nyaman bekerja di institusi semacam itu. Seandainya aku bekerja di perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) semacam Nestlé, Unilever, Mayora, atau Tajín tempat aku bekerja dulu, apabila barang tidak laku, resiko terburuk adalah barang daganganku kadaluwarsa dan kita akan mendapat kerugian atas barang yang tidak laku tersebut. Tapi, bagaimana apabila aku bekerja di bank? Aku memberikan pinjaman kepada debitur dan debiturku tidak sanggup mengembalikan pinjamannya? Drama inilah yang bisa memberikan gambarannya.

Naoki Hanzawa
Naoki Hanzawa

Naoki Hanzawa, seorang bankir yang memulai karir sebagai kepala divisi peminjaman. Dia dipaksa oleh atasannya untuk memberikan kredit sebesar 500juta yen ke sebuah perusahaan baja yang sudah jelas-jelas tampak mata sudah tidak sehat di mata Naoki. Atasannya memaksanya melakukan hal itu agar target pemberian kredit terpenuhi. Pada awalnya Naoki menolak untuk memberikan pinjaman tersebut karena resikonya sangat besar. Namun atasannya tetap memaksa karena dia berani bertanggungjawab apabila terjadi hal yang terburuk.

Firasat Naoki ternyata benar, perusahaan baja tadi tak lama kemudian menyatakan pailit dan pemiliknya kabur entah kemana. Lalu bagaimana dengan atasannya? Atasannya juga lari dari tanggung jawab dan menyalahkan semua kelalaian ini kepada Naoki karena Naoki tidak bisa melihat hal ini dari awal. Naoki telah dikorbankan untuk menyelamatkan posisi atasannya. Bagaimana kelanjutannya? Silakan tonton sendiri filmnya.

Film drama 10 episode ini memenangkan penghargaan sebagai film drama yang paling banyak ditonton pada tahun 2014. Dengan jumlah penonton 42,2% di wilayah Kanto saja! Jumlah penonton terbanyak di era Heisei.

Aku sudah menonton film ini sampai selesai dan endingnya benar-benar di luar dugaan. Membuat kita bertanya-tanya mengapa CEO-nya, Presiden Nakanowatari melakukan hal itu kepada Naoki? Apakah karena Naoki terlalu lancang? Apakah Presiden Nakanowatari juga merasa terancam dengan keberadaan Naoki? Apakah Presiden Nakanowatari ingin supaya Naoki bisa seperti rekannya Kondo? Aku sendiri juga tidak tahu.

teman terakhir kita adalah teman kita pada saat kuliah. Pada saat bekerja, yang ada itu hanyalah rekan, bukan teman.

Melalui film ini juga, aku juga menjadi paham tentang ucapan temanku yang bekerja di sebuah bank. Dia mengatakan bahwa teman terakhir kita adalah teman kita pada saat kuliah. Pada saat bekerja, yang ada itu hanyalah rekan, bukan teman. Kita benar-benar tidak tahu kepentingan yang dibawa oleh rekan-rekan kita di tempat kita bekerja. Tidak mungkin juga kita mengeluh tentang sikap bos kita dengan bebas dengan rekan-rekan sekantor kita. Bisa-bisa kita sendiri yang akan menerima akibatnya nanti. Oleh karena itu, tetaplah jaga hubunganmu dengan teman-teman kuliahmu yang bekerja di tempat yang berbeda denganmu.

Melalui film ini juga aku memahami drama yang mungkin umum terjadi di dalam bank tanpa harus menjadi bankir. Benar-benar film yang layak untuk ditonton.

Ayo pada nonton film ini, supaya aku juga memiliki teman diskusi untuk berbicara tentang film ini, tentang perbankan, manajemen, dan tentu saja ekonomi.

Banyak sekali diskusi-diskusi menarik terjadi di dalam film ini. Salah satunya ada ungkapan yang mengatakan bahwa bank itu memberikan payung dikala cerah, dan merenggutnya dikala hujan.

bank itu memberikan payung dikala cerah, dan merenggutnya dikala hujan.

Setelah menonton film ini, apakah kalian masih ingin bekerja di bank? Aku ingin mendengar juga pendapatmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s