Travelling

Sembilan Alasan Mengapa Aku Tetap Memilih Kereta Api Daripada Pesawat

Semarang adalah kota yang berjarak 445 Km dari Jakarta. Infrastruktur perhubungan yang menghubungkan kota ini dengan Jakarta pun sangat beragam sehingga kita bisa memilih sendiri moda transportasi sesuai kemampuan dan selera kita. Apabila menggunakan mobil atau bus, waktu tempuh perjalanan di hari biasa adalah tujuh hingga 10 jam. Dengan kereta cepat antara enam hingga delapan jam. Dengan kapal, aku kurang tahu berapa lama tapi rumornya sih satu malam. Pesawat adalah moda transportasi yang bisa membawamu ke Jakarta dengan waktu tempuh paling singkat hanya 45 menit hingga satu jam! Itu seperti kamu berusaha menemukan posisi wuenak di dalam pesawat, ketika sudah ketemu, eh pesawatnya sudah sampai… 

Sudah barang tentu seperti pepatah jawa Ana Rega Ana Rupa, harga yang harus dibayarkan untuk menaiki moda transportasi super cepat ini adalah yang tertinggi di antara moda-moda transportasi lainnya. Dan dengan banyaknya maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Semarang ini membuat harga menjadi semakin miring sehingga membuat banyak penumpang yang tadinya terbiasa menggunakan bus, mobil, dan kereta api untuk bepergian ke Jakarta, kini beralih menggunakan pesawat.

Dalih mereka adalah, mereka merasa perjalanan dengan pesawat ini lebih cepat dan lebih murah. Rp400.000,00 hingga 700.000,00 bahkan bisa melebihi satu juta rupiah sudah murah bagi para pengguna moda transportasi ini. Perekonomian di negara ini memang sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Tapi bagaimanapun juga, bagiku alasan-alasan tadi tetap tidak membuatku berpindah dari pesawat ke kereta api. Meskipun waktu tempuhnya lima jam lebih lama, tapi ini tidak mengapa bagiku. Berikut alasan-alasan mengapa aku tetap tetap setia menggunakan moda transportasi kereta api:

1) Harga Tiket KA Tetap Lebih Murah.

Jadwal Kereta

Tipe kelas yang dimiliki KA bervariasi seperti pesawat yang terdiri dari kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Namun harganya memiliki bentangan harga yang sangat jauh antara satu kelas dan kelas lainnya. Seperti contohnya kelas ekonomi harganya mulai dari Rp90.000,00. Sedangkan untuk kelas yang paling mewahnya seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, harga tiket yang termahal pun masih tetap lebih murah daripada harga tiket termurah kelas ekonomi di pesawat.

2) Tidak perlu melakukan Check In 45 menit sebelum keberangkatan.

Check In di Bandara

Salah satu hal yang paling saya tidak suka dari naik pesawat adalah adanya ketentuan kita harus melakukan Check In setidaknya 45 menit sebelum keberangkatan. Apabila di tiket pesawat tertera jadwal keberangkatan pukul 16.00, maka setidaknya kita harus sudah berada di bandara antara pukul 15.00 hingga 15.15. Antriannya pun kadang panjang dan melelahkan. Belum lagi kalau bagasi kita overload. Akan ada biaya tambahan lagi per kilogramnya. Kalau hanya sekali-sekali sih tidak mengapa. Namun bagaimana dengan para frequent flyer yang mungkin sehari-hari bepergian menggunakan pesawat?

Apabila naik kereta api, kita terbebas dari aturan check in 45 menit sebelum keberangkatan. Kereta berangkat pukul 16.00, kita tiba di stasiun pukul 15.58 juga tidak mengapa. Praktis sekali.

3) Pemeriksaan Sinar-X membuatku risih.

Pemeriksaan X-Ray

Ya, aku tahu pemeriksaan ini merupakan prosedur standar dalam dunia aviasi demi keamanan kita bersama. Namun perasaan dicurigai dengan azas praduga bersalah ini membuatku tidak nyaman. Walaupun pemeriksaan sudah dilakukan dengan sangat ketat dan regulasi yang selalu berubah-ubah dalam kurun waktu tertentupun ternyata tidak membuat dunia aviasi terbebas dari ancaman aksi-aksi terorisme terutama ancaman pembajakan.

Di kereta api, tidak ada pemeriksaan semacam itu. Keleluasaan ini tidak serta-merta membuat kasus pembajakan di dalam kereta api meningkat. Beberapa kasus pembajakan kereta api juga pernah dilaporkan terjadi di Glimmen, Belanda pada tahun 1977 yang dilakukan oleh gerakan teroris dan separatis (dari sudut pandang siapa?) Republik Maluku Selatan di sana. Namun mungkin karena peluang terjadinya insiden pembajakan di kereta api ini jauh lebih kecil daripada pesawat, maka pihak stasiun manapun di seluruh dunia tetap tidak melakukan pemeriksaan sinar-X di stasiun-stasiun yang ada di negara mereka.

4) Ketika naik KA, aku merasa lebih tenteram

Iya, karena keterbatasan finansial yang aku alami, aku dan sebagian besar penumpang pesawat hanya mampu mengenyam bangku kelas ekonomi yang sempit dan menyesakkan itu. Bahkan tak jarang pula orang yang yang kehidupan perekonomiannya sudah termasuk kelas atas seperti artis tenar Diandra Paramitha Sastrowardoyo pun masih memilih berdesak-desakan di kelas ekonomi.

Dian Sastro naik pesawat

Berada di kursi ekonomi ini adalah pengalaman paling tidak mengenakkan. Apalagi bagi penumpang yang berbadan tambun. Satu jam saja berada di pesawat adalah perasaan yang menyiksa bagi mereka. Apalagi jika berada 24 jam di udara seperti durasi penerbanganku ke México dulu. Belum lagi kekhawatiran lainnya seperti pesawat yang akan jatuh karena beberapa faktor, sempitnya ruang gerak, turbulensi, mabuk udara, larangan penggunaan peralatan elektronik di dalam pesawat, dan keterlambatan kedatangan di kota tujuan membuat resah beberapa penumpang.

Apabila naik kereta, perasaanku lebih tenteram karena aku hanya takut keretaku terlambat. Apabila keretaku tertimpa musibah seperti tabrakan dan keluar jalurpun, aku masih memiliki peluang selamat yang lebih besar daripada ketika berada di dalam pesawat yang akan melakukan crash landing. Dan di dalam kereta tidak ada larangan penggunaan perangkat elektronik dari keberangkatan hingga kedatangan di stasiun tujuan. Bahkan ada stop kontak yang bisa digunakan untuk mengisi ulang baterai perangkat elektronik kita sehingga perjalanan kita lebih menyenangkan.

5) Pemandangan Dari Dalam Kereta Lebih Menarik

Ketika naik pesawat, keseruan terjadi ketika pesawat akan tinggal landas dan akan mendarat. Ketika di udara, mungkin awalnya kita merasa senang terbang menembus awan di bawah langit biru. Tapi perasaan itu tidak akan bertahan lama. Karena terus menerus memandang awan dan langit  itu bisa juga membosankan.

Naik Kereta Api

Berbeda dengan naik kereta api. Apabila naik kereta di siang hari, memandangi kota, desa, sawah, gunung, hutan, pantai, dan tebing menjadi pemandangan yang paling dinanti-nantikan ketika kita naik kereta api. Mata kita tidak pernah bosan dimanjakan dengan hamparan sawah yang membentang di depan mata kita, rindangnya dedaunan pepohonan, riak-riak ombak yang seakan-akan menyapa kita serta gagahnya gunung yang menjulang tinggi menemani kita di dalam perjalanan.

Gerbong Restorasi

Sesekali cobalah untuk memesan makanan di gerbong restorasi. Makanannya mungkin biasa saja, tapi tidak dengan pemandangannya. Kapan lagi kita bisa makan di restoran namun dengan pemandangan yang selalu berubah-ubah?

6) Stasiun Kereta Api lebih eksotis daripada bandar udara

Sebagian besar kereta api di Indonesia terutama di pulau Jawa dan Sumatra sudah ada jauh sebelum presiden Ir. Soekarno dibuang ke Digoel. Stasiun-stasiun inipun dibangun oleh berbagai macam maskapai kereta api yang ada di Hindia belanda seperti NIS (Nederlands-Indische Spoorweg)yang kantor pusatnya di Lawang Sewu, SCS (Semarang-Cheribon Stroomtram) yang kini kantornya digunakan sebagai kantor pusat PT KA Daop IV Semarang, SJS (Samarang-Joana Stoomtram) yang kini kantor tergenang rob di lantai dasarnya, SS (Staat Spoorwegen) yang kini kantor pusatnya di Bandung dijadikan sebagai kantor pusat PT Kereta Api Indonesia (Persero). Setiap maskapai memiliki langgam tersendiri dalam membangun stasiunnya. Itulah sebabnya mengapa Stasiun Tawang memiliki corak yang berbeda dengan Stasiun Poncol. Hal ini disebabkan karena kedua stasiun tadi dibangun oleh dua maskapai yang berbeda. Stasiun Tawang dibangun oleh NIS, sedangkan Stasiun Poncol dibangun oleh SCS.

Menurut pengamat perkeretaapian dari Unika Soegijopranoto, Tjahjono Rahardjo, mengatakan bahwa dahulu semua maskapai tidak terlalu memerhatikan keindahan stasiun. Baru kemudian NIS-lah yang mulai memerhatikan estetika bangunan stasiun sebagai tempat naik dan turunnya penumpang, maka dibangunlah Stasiun Tawang dengan sedemikian megahnya. Sangat jarang ditemui atau mungkin memang hanya Stasiun Tawang, stasiun yang selesai dibangun pada tahun 1914 ini yang memiliki kubah di hall utama stasiun ini.

Stasiun Tawang Stasiun Tawang

Kemudian ada stasiun megah lainnya di tanah air seperti Kota, Tanjung Priok, Pasar Senen, dan lain-lain. Sehingga ada percampuran budaya antara kebudayaan barat dan timur di bangunan stasiun-stasiun kita. Hal inilah yang membuat stasiun kita eksotis.

7) Kalau dihitung-hitung, waktu tempuhnya hampir sama

Secara sekilas, naik pesawat memang lima jam lebih cepat daripada kereta argo. Tapi apabila kita cermati lagi, waktu yang dibutuhkan untuk check in dan menunggu kurang lebih satu hingga dua jam. Penerbangannya sendiri dari tinggal landas sampai mendarat kurang lebih satu jam. Mengambil bagasi kalau ada tiga puluh menit hingga satu jam. Naik kendaraan dari Soekarno-Hatta ke pusat kota antara satu hingga dua jam tergantung lalu lintas. Kalau apes bisa tiga jam. Jadi apabila kita akumulasikan keseluruhan waktu naik pesawat dari memasuki bandara Ahmad Yani hingga tiba di pusat kota Jakarta itu kurang lebih antara empat sampai enam jam. Sedangkan apabila kita naik kereta, waktu kita yang enam jam itu murni merupakan waktu tempuh kita di dalam perjalanan karena stasiun Gambir sudah terletak tepat berada di jantung kota Jakarta.

8) Lebih merasa seperti orang Eropa atau Jepang ketika menggunakan kereta api

Sebenarnya ini adalah alasan yang paling absurd. Aku merasa lebih seperti orang Eropa atau Jepang apabila naik kereta api. Apabila kita kemana-mana lebih suka naik pesawat itu malah seperti orang Amerika. Lha memangnya kenapa kalau seperti orang Amerika? Itu dia makannya aku katakan di muka bahwa alasan di poin ini sangat absurd.

Peron 9 3/4
Bentuk portalnya memiliki motif lengkung yang menyerupai portal di stasiun Tawang, ya?

Lihat saja film-film Eropa dan Jepang atau yang berlatar belakang di Eropa dan Jepang. Contohnya seperti Harry Potter, Miss Potter, About Time, Bourne Ultimatum, Hot Fuzz, dan beberapa film Jepang lainnya, kita sering melihat bahwa mereka lebih suka bepergian dengan menggunakan kereta daripada pesawat.

9. Kalau Go Show tetap lebih nyaman naik kereta api

Go Show adalah istilah yang digunakan di dunia bisnis perjalanan bagi pembelian tiket pemberangkatan langsung. Apabila kita melakukan go show dengan naik pesawat, harga tiketnya pasti jauh lebih mahal. Bahkan bisa dua kali lipatnya karena harga tiket pesawat tergantung dengan waktu pembelian kita. Semakin mendekati waktu pemberangkatan, harga tiketnya semakin mahal. Berbeda dengan kereta yang harganya sudah ditetapkan dan bisa kita amati melalui internet. Sehingga ketika mau go show pun kita bisa menaksir harga yang akan kita bayarkan. Go show ketika naik keretapun masih bisa dilakukan 10 menit sebelum kereta berangkat. Kalau naik pesawat, mana bisa?

Itu tadi sembilan alasan mengapa aku tetap memilih kereta api daripada pesawat. Mungkin ini juga bisa disebabkan karena kecintaanku pada kereta api juga. Namun secinta-cintanya aku kepada kereta api, aku masih rasioinal kok. Aku tidak akan pernah mau mencoba naik kereta dari Jakarta ke Surabaya yang waktu tempuhnya sembilan jam. Walaupun sebenarnya tetap terlihat menarik untuk dicoba. Tapi bagiku, enam sampai tujuh jam di dalam kereta sudah cukup.

8 thoughts on “Sembilan Alasan Mengapa Aku Tetap Memilih Kereta Api Daripada Pesawat

  1. Hallo mas dimas,

    Thanks loh sudah dijabari informasi seputat keretanya terutama kereta bagian eksekutifnya.
    Dr faktor keamanan dan harga aku setuju kalau kereta lebih baik.
    Namun untuk hal lainnya terutama untuk jarak yg sangat jauh misalkan malang, menurut aku harga kelas eksekutifnya sgt tidak menarik, harga kelas tsb minimal 400-500rb dgn lama perjalanan 15jam lebih, sedangkan melalui pesawat hanya 650rban dgn lama perjalan hanya 1.5 jam.
    Untuk foto yg mas pajang di atas kalau saya lihat itu adalah bangku kelas eksekutif dimana bangku kelas ekonomi menggunakan bangku gabungan dgn sudut 90 derajat yang sangat melelahkan , aku pernah naik kereta ekonomi dr malang selama 16 , lelahnya ga ketulungan haha
    Untuk kelas ekonominya saja sepeti bima dan ganjayana harganya 200-300rb :( , jd mungkin untuk jarak tempuh yg sangat jauh masih lebih efisien pesawat mas dlm terkecuali kita mau naik kelas ekonomi yg notabane lbh murah 1/2 harga dr pesawat tetapi harus tersiksa duduk di bangku 90 derajat selama 15jam lebih hehe

    1. Halo Mas Robin.

      Terima kasih untuk comment-nya yang luar biasa detail ini. Mas bisa bikin satu artikel sendiri ini itungannya… haha…

      Iya betul, saya menulis ini dari sudut pandang penumpang kereta dari Semarang, di mana untuk kelas ekonomipun lama jarak tempuhnya hanya delapan jam dari Semarang ke Jakarta maupun sebaliknya. Eksekutif bisa lebih cepat lagi dengan harga yang tidak jauh berbeda dari pesawat, saya pasti memilih kereta.

      Namun tulisan saya jadi terasa tidak berimbang apabila dilihat dari sudut pandang penumpang yang berasal dari Timur pulau Jawa. Sayapun membayangkan naik kereta 9-12 jam walaupun dengan kelas eksekutif tentu sangat melelahkan dan buang-buang waktu.

      Tapi apa yang bisa kita perbuat di sini, seandainya kereta kita bisa melaju lebih cepat, semisal kec. rata-rata 200-300km/j, pasti waktu tempuh Jakarta-Surabaya jadi lebih cepat (Apalagi Jakarta-Semarang?).

      Jadi ya, sayapun di sini juga menaruh harapan semoga kereta kita bisa berlari lebih kencang lagi di kemudian hari, sehingga tulisan saya ini bisa terdengar adil bagi pembacanya di manapun dia berada…

      Salam.

  2. Well, ketika saya memposisikan sebagai penikmat perjalanan dgn KA tentu saya sangat setuju dengan tulisan njenengan, sampai awal tahun 2014 saya masih rutin pake KA jakarta jombang atau jakarta surabaya per 2 minggu, tapi makin ke sini koq naik KA ke jatim makin banyak ndak enaknya yaa, meskipun saya ini penggemar KA dr kecil, tapi kayanya harus rasional dg kenyamanan dan kebersamaan dg keluarga…..
    Beberapa hal sangat disayangkan, pertama tentu saja harga yg makin mahal tapi ndak worth it, apalagi setelah citilink bisa dari halim, kedua kenyamanan yg makin dikurangi; yaa jok kereta diganti dg kulit sintetis kalau tidak mau disebut plastik, buat tidur semalaman tentu ndak enak, belum lagi lampu kabin diganti dg lampu di tengah yg silau dan sekarang tombol rec seat diganti tuas yg ngganjal di bokong…. Dan ini yg paling saya ndak suka, dulu naek kereta bisa aga santai dr sby/jombang dan sampe jakarta jam 5-6 pagi dan itu pas shg bisa kita anggap efektif dlm hal waktu , sekarang kereta berangkat dari surabaya lebih sore agar tiba di jakarta sebelum jam 5 pagi…. What the hell, pagi buta sampai jakarta sementara ngantor jam 7.30… sementara dg citilink yg harganya hampir sama dan udah include airport tax, udah ada yg jam 5.55 dr juanda dan sampe halim jam 7.00, ngojek kira-kira 15 menit, insya Allah ndak telat sampai kantor (ada dispensasi s.d jam 8 pagi dg konsekuensi pulang min harus lebih lambat 30 menit dr jam pulang normal) … . dan penyusunan jadwal KA seolah tidak disesuaikan dg kebutuhan customernya, Gapeka 2015 tidak menyediakan jadwal perjalanan ka after-hour untuk ka dari jakarta ke jatim wilayah selatan, hanya dikasih ka majapahit, yg kelas ekonomi tapi mahal untuk jam 18.20… apa maksudnya kereta api menghilangkan banyak kenyamanan kepada para customernya; kenyamanan dan hospitalities di kabin, jok dan lampu yg makin tidak nyaman untuk kereta malam dan yang paling mengecewakan adalah hilangnya kenyamanan berupa makin tidak match nya jadwal KA dg kebutuhan customer selama ini

    1. Betul mas, secinta-cintanya saya sama kereta, saya juga masih rasional kok. Kalau naik kereta dari Jakarta ke Surabaya harus makan waktu 9 jam kok kayanya males banget juga… Kayanya kini memang kereta hanya bisa dinikmati kalau betul-betul selo nggih, mas…

      Saya juga setuju kalau jok kulit itu mengurangi kenyamanan, lampu juga terlalu terang… Padahal sudah bagus dulu, lampu terletak di tepi langit-langit dan jok dari busa…

      Intinya kalau kereta lebih cepat dan frekuensi lebih banyak, pasti jadwal bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Soalnya kalau ke Jakarta aja udah 9 jam, mau jam berapa aja ngga ada yg cocok, mas. Walaupun 9 jam dihabiskan bermalam di kereta, tetep aja pas bangun capek… kalau tidak bisa membuat kereta lebih cepat, minimal lebih nyaman lah ya, ada kompartemen tidur kaya kereta2 di Jepang…

      Yah kalau begini kita cuman bisa berharap aja semoga harapan kita didengar sama PTKAI, mas…

      1. Leres mas, btw saya quote yaa statement njenengan “kalau tidak bisa membuat kereta yg cepat, harusnya dibuat kereta yang nyaman”…… semoga aja ada pembenahan dr kereta api. Cuman kalo kereta model sleeper berth ntar tarifnya jadi berapa yaa, yg sekarang ndak nyaman ajah udah mahal bgt n udah sama kek tarif pesawat LCC, padahal LCC di jawa menurut saya mahal dibandingkan yg ke sumatera ato di malay, s’pore, Thailand ato Ostralie…

        Semoga aja ke depan bisnis kereta api komersial dibuka, sehingga ada persaingan pemain bisnis KA, shg dg persaingan akan tercipta pelayanan yg lebih baik n harga yg lebih rasional… berharap kereta di sini bisa kaya KTM Malaysia, KL ke Penang dg kereta Sleeper berth 7 jam cuman 150rb an kalo dikonversi, dan lebih lebih bisa senyaman kelas soft sleeper kereta Vietnam, super nyaman tapi ndak sampe 1/2 harga LCC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s