History

Sudah Adilkah Kita Kepada Sejarah?

Merdeka, Merdeka, Merdeka!!!

Teriak gubernur Ganjar Pranowo ketika memimpin upacaranya pertama kali sebagai gubernur Jawa Tengah di lapangan Pancasila tadi pagi yang kemudian diikuti oleh seluruh peserta upacara dan sebagian penonton upacara. Ada pemandangan berbeda ketika pak gubernur memimpin upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 di lapangan yang biasa juga dikenal oleh rakyat sekitar dengan sebutan lapangan simpang lima tadi. Tidak seperti gubernur-gubernur pendahulunya, apalagi seperti gubernur yang baru beliau gantikan pada tanggal 23 Agustus tahun lalu yang berlatar belakang militer, tadi pagi panggung kehormatan tempat beliau berdiri tidak tertutup oleh atap yang berguna untuk melindunginya dari terik sinar mentari. Beliau berdiri tegak menantang panasnya sang surya dengan gagah berani. Mungkin beliau terinspirasi oleh pemimpin besar revolusi yang pernah berpidato di tempat yang sama beberapa puluh tahun silam

69 tahun sudah kita merdeka. 69 tahun kita memproklamirkan diri bahwa kita sudah terbebas dari jeratan monarki-monarki ribuan kilometer jauhnya. Monarki yang berasal dari Eropa maupun dari Asia. Kita ingin putra-putra bangsa yang terlahir di tanah-tanah yang subur ini bangkit dan mengurus negeri ini sendiri. Tapi apakah betul bahwa kita tersakiti oleh para raja yang berkuasa di negeri yang kaya ini selama ratusan tahun? Saya rasa itu tidak sepenuhnya betul.

Pada libur idul fitri kemarin, aku mengajak kakakku dan keponakanku berlibur ke Museum Kereta Api yang terletak di kota Ambarawa yang berjarak sekitar satu jam dari Semarang. Sebuah stasiun tua milik maskapai kereta api Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun yang dahulu bernama Willem I ini yang diambil dari nama salah satu raja Belanda merupakan salah satu stasiun yang berada di jalur penting yang menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta. Di sana, aku melihat sebuah foto yang menarik sekali di dalam sebuah ruangan yang terletak di dalam stasiun tersebut. Di sana aku melihat foto para pegawai maskapai NIS ini berfoto di balai yasa mereka. Yang menarik dari foto ini adalah susunan orang-orang yang berfoto di sana. Di sana terlihat foto pegawai yang berkebangsaan Eropa menyatu dengan pegawai pribumi tanpa ada pemisah apapun. Entah mengapa saya merasakan ada suasana keakraban di dalam foto ini. Kemudian muncul berbagai macam pertanyaan di dalam benakku,”apakah pada saat itu kita benar-benar terjajah?”

Kemudian pertanyaan lain muncul di benakku, apakah perbedaan antara zaman Belanda dengan zaman kemerdekaan seperti saat ini? Saat ini banyak juga teman-teman kita yang bekerja di perusahaan asing yang kesejahteraannya sangat terjamin yang pimpinannya juga berkulit putih seperti maskapai NIS ini. Dari cerita yang aku dengar dari salah seorang Pensiunan PT Kereta Api, kesejahteraan masinis maskapai NIS dan maskapai kereta api lainnya di tanah air yang notabene sebagian besar berasal dari pihak pribumi ini sangat terjamin karena pada zaman dahulu kereta api masih digerakkan dengan lokomotif uap. Mengoperasikan lokomotif uap ini memiliki beresiko yang tinggi karena apabila tidak berhati-hati, lokomotif ini bisa terbakar sendiri.

Apakah kita sudah merdeka? Itulah kemudian pertanyaan yang sering muncul melihat banyaknya perusahaan dan produk asing yang membanjiri negara ini. Baru saja tadi malam saya berbincang dengan salah seorang budayawan kota Semarang yang aktif dalam memopulerkan musik jazz di kota Loenpia ini, beliau menceritakan apa yang dirasakan neneknya ketika masih kecil bahwa pada zaman Belanda dulu dikenal juga dengan Zaman Normal. Mengapa disebut demikian? Karena susunan politik dan ekonomi sudah mulai tertata. Pada masa itu pula sudah banyak juga orang pribumi yang kaya raya. Contohnya adalah pengusaha batik dari Laweyan kota Solo, Haji Samanhoedi.

Pada bulan ramadhan yang lalu saya berbincang juga dengan salah seorang warga Laweyan yang menjadi induk semang dari temanku yang mengadakan KKN di Surakarta. Bapak tadi mengatakan bahwa dahulu pendapatan H. Samanhoedi dari berdagang batik per hari adala 1000 Gulden, sedangkan gaji seorang residen di Surakarta per bulan pada masa itu adalah 1000 Gulden!

Itu hanyalah satu dari banyak contoh kisah orang pribumi ataupun keturunan Tiong Hoa yang sukses di Hindia Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa tidaklah benar bahwa selama puluhan tahun lamanya rakyat hidup serba berkesusahan di zaman Hindia Belanda.Pemerintah Belanda sudah sangat liberal dalam menjalankan kehidupan perekonomiannya. Siapapun boleh menjadi pengusaha dan boleh menjadi kaya di negara ini. Baik yang berkebangsaan Eropa, Arab, Tiong Hoa, India bahkan pribumi itu sendiri.

Namun, pemerintah membutuhkan sesuatu untuk bisa mempertahankan keberadaan negeri ini pada masa awal kemerdekaan. Salah satunya adalah dengan menyebarkan kisah-kisah tentang penderitaan rakyat pada masa Hindia Belanda dan terbukti kisah itu cukup ampuh untuk membuat rakyat meyakini hingga saat ini bahwa rakyat hidup sangat menderita pada masa Hindia Belanda.

Cerita itu pulalah yang menjadi dasar untuk terus-menerus merayakan upacara kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus. Walaupun yang sebenarnya terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah kita sedang dalam posisi berada di bawah kepemimpinan Dai-Nippon yang saat itu sudah menyerah kepada sekutu sehingga terjadi kekosongan pemerintahan di tanah air. Tentara Jepang sedang dalam posisi menunggu hingga sekutu datang dan mengembalikan keadaan seperti sedia dulu kala sebelum pecah perang dunia II dan kemudian memulangkan sisa-sisa tentara Jepang yang ada di tanah air. Tapi pemerintah selalu mendengungkan kepada kita semua bahwa pada tanggal itu, kita telah merdeka dari Belanda.

Bagaimana dengan zaman Jepang? Dari sekian banyak kesaksian yang aku kumpulkan, tampaknya pada masa pemerintahan Jepang yang pendek itu, Jepang benar-benar menjajah Indonesia. Berbeda dengan Korea yang sudah menjadi bagian dari Jepang semenjak tahun 1905, ketika Jepang datang ke Indonesia pada bulan Maret 1942, Jepang sedang dalam situasi berperang dengan sekutu di Pasifik. Sehingga apapun yang pemerintah Jepang lakukan di tanah air hanyalah semata-mata dilakukan demi membantu usaha pemenangan tentara Dai-Nippon dalam ajang Perang Pasifik. Usaha yang dilakukan Kekaisaran Dai-Nippon pada saat itu antara lain pembentukan tentara PETA, romusha, penanaman jarak, gerakan menabung dan lain-lain.

Ada hal menarik pada masa pemerintahan Dai-Nippon ini yang aku dapat dari konferensi sejarah yang diadakan di Jogja pada bulan Mei lalu. Ditemukan fakta bahwa libur sebulan penuh selama bulan puasa sudah ada bukan dari pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, namun sudah ada semenjak pemerintahan Dai-Nippon.

Kemudian, bagaimana dengan PKI? Hmmm, hal ini masih agak tabu untuk diperbincangkan di muka umum walaupun presiden Abdurrahman Wahid pernah meminta maaf kepada keluarga keturunan PKI yang menderita selama pemerintahan orde baru. Memperbincangkan PKI di Indonesia ini lebih berbahaya daripada memperbincangkan penjajahan Inggris, Jepang maupun Belanda yang lebih banyak menelan korban jiwa. Bahkan tidak sedikit pula anggota PKI dan organisasi yang terafiliasi dengannya tiba-tiba lenyap selama pemerintahan orde baru. Tapi apakah betul sebenarnya dahulu PKI sekejam itu? Apakah betul PKI benar-benar merencanakan kudeta pada tanggal 30 September 1965? Apabila iya, coba tunjukkan dokumen yang berisi tentang pengakuan resmi dari anggota PKI bahwa mereka benar-benar merencanakan kudeta itu. Bahkan sebelum mereka sempat membela diri, sebagian besar dari mereka sudah hilang ditelan bumi.

Kemudian kita merayakan kemenangan kita kedua kalinya atas komunisme di Indonesia yang dikenal dengan Hari Kesaktian Pancasila yang dirayakan setiap tanggal satu Oktober. Sebuah peringatan yang sebenarnya digunakan oleh pemerintahan Orde Baru untuk bisa melanggengkan kekuasaannya selama puluhan tahun. Selama puluhan tahun lamanya juga, pemerintah orde baru berusaha melupakan peranan warga keturunan Tiong Hoa dalam upaya merebut kemerdekaan karena pada saat itu Republik Rakyat Tiongkok adalah negara yang berhaluan komunis. Sungguh menyedihkan.

Tulisan ini sebenarnya saya buat agar teman-teman sekalian bisa melihat sejarah bangsa ini lebih berimbang lagi. Banyak kerajaan silih berganti memerintah negeri ini. Dari yang berlatarbelakang Tri-Murti, Islami, Kristiani bahkan hingga yang menyembah terbitnya sang mentari. Peranan masing-masing pemerintahan itupun walau terkadang perih tapi kontribusinya terhadap negeri ini tidak bisa diingkari.

Berbagai peninggalan bersejarah seperti candi, istana, jaringan kereta api, listrik, jalan, air, kata serapan, bahkan rukun tetanggapun adalah warisan dari pemerintah-pemerintah kita terdahulu.

Pergantian pemerintahan itupun selalu dibanjiri dengan darah. Ketika pemerintahan Belanda berganti ke Inggris, Belanda berganti ke Jepang, Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama berganti ke Orde Baru, Orde Baru berganti ke Orde Reformasi adalah tahapan-tahapan penuh kegetiran yang harus dilalui bangsa ini untuk bisa menganut demokrasi dengan sepenuh hati. Akhirnya setelah perjalanan panjang selama ratusan tahun lamanya, kita belum pernah lagi melihat darah tertumpah ketika sebuah rezim berganti pada tahun 1998 silam.

Marilah bersama-sama kita hapus lembaran hitam masa lalu yang mengotori negeri ini. Iya, kita semua tahu bahwa para pemimpin kita terdahulu baik yang berkulit putih-pucat, kuning maupun yang berkulit sawo matang pernah berbuat kesalahan di negara ini. Kini menjadi tugas kitalah untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang mereka sehingga kita bisa memandang masa lalu dengan lebih bijaksana lagi, menghilangkan semua dendam yang ada di dada  dan memandang masa depan dengan penuh harapan.

Semarang, 18 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s