History

Hikayat Jatuhnya Semarang ke Tangan VOC

Perseteruan Antara Kesultanan Mataram Islam dengan VOC

Hadirnya VOC di Batavia (kini Jakarta) di Pulau Jawa pada tahun 1619 sedikit mengganggu keharmonisan pulau Jawa. Kerajaan terbesar di pulau Jawa saat itu, Kerajaan Mataram, sedang berada di puncak kekuasaannya. Kerajaan ini berambisi untuk memperluas kekuasaannya dari ujung barat hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Setelah berhasil menaklukkan Surabaya pada tahun 1625, Mataram yang sedang haus kekuasaan juga berambisi untuk menguasai kerajaan Banten yang berada di ujung barat pulau Jawa.

Benteng Batavia yang digunakan pedagang kulit pucat yang dilengkapi dengan senapan laras panjang untuk melindungi kepentingan bisnis mereka di nusantara.
Benteng Batavia yang digunakan pedagang kulit pucat yang dilengkapi dengan senapan laras panjang untuk melindungi kepentingan bisnis mereka di nusantara.

Setelah keinginan untuk bersekutu dengan VOC dalam usaha penaklukan Surabaya ditolak, kini Mataram kembali memberikan tawaran kepada VOC untuk bersekutu untuk menguasai kerajaan Banten dengan mengajukan beberapa persyaratan tertentu. Namun kembali keinginan ini ditolak oleh VOC. Penolakan yang kedua kalinya ini membuat Sultan Agung merasa bahwa VOC telah menjadi penghalang bagi dirinya untuk menaklukkan seluruh pulau Jawa, sehingga tidak ada pilihan lain bagi VOC kecuali berperang.

Pertempuran antara Sultan Agung dan VOC ini terjadi dua kali di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Namun sayang kedua serbuan tadi berujung pada kegagalan. Kegagalan Sultan Agung dalam menyerang VOC ini menyebabkan Sultan Agung harus mengakui keunggulan VOC. Hal ini menyebabkan Kesultanan Mataram mengalihkan ambisinya untuk menguasai Jawa bagian barat seperti Banten ke Jawa bagian timur seperti Bltar, Panarukan, dan Blambangan. Sedangkan VOC semakin mengukuhkan hegemoninya atas Batavia dan wilayah-wilayah sekitarnya seperti Bogor dan datarang tinggi Priangan.

Ada sebuah daerah di Jakarta yang digunakan tentara Mataram ini untuk bermukim selama mereka mengepung Batavia. Sebuah daerah yang ramai yang mana terdapat pula kantor pusat Seven Eleven disana. Sebuah daerah yang terletak di Jakarta Pusat itu dulu juga pernah menjadi judul salah satu lagu dari The Upstairs yang pernah terkenal di dekade awal 2000-an. Nama daerah dan judul lagu yang dimaksud adalah Matraman.

Pada tahun 1645, Sultan Agung yang ambisius itu wafat dan kemudian kedudukannya digantikan oleh putranya, Sultan Amangkurat I. Pertanyaan baru kemudian muncul, apakah menurut kalian Sultan Agung yang berambisi menduduki kerajaan-kerajaan di seluruh Pulau Jawa ini pantas dijadikan pahlawan nasional? Perlawanannya melawan VOC-pun gagal. Masih pantas, kah?

Ketidakpuasan Terhadap Pemerintahan Sultan Amangkurat I

Sepeninggal Sultan Agung,  saat itu kekuasaan Mataram sudah meliputi sebagian Jawa Barat, seluruh Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun ketidakpuasan terhadap pemerintahan Sultan Amangkurat I mulai bermunculan. Sultan Amangkurat I yang bertangan besi dan sedikit condong ke VOC, musuh yang diperangi dengan sangat sengit oleh ayahnya. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dari kalangan ulama dan para santri. Ulama yang memrotes hal ini banyak yang ditangkap dan dihukum mati. Bahkan adik Sultan Amangkurat I sendiri, Pangeran Alit, memimpin pemberontakan pada tahun 1656. Namun pemberontakan tadi gagal.

Ketidakpuasan selanjutnya muncul dari Madura. Ketidakpuasan rakyat Madura terhadap kepemimpinan Sultan Amangkurat I akhirnya mendorong Trunojoyo untuk memerdekakan diri dari Mataram pada tahun 1674. Pemberontakan Trunojoyo ini dengan cepat mendapat dukungan dari Surabaya dan Kesultanan Makasar. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih oleh Trunojoyo dan sekutunya hingga akhirnya Trunojoyo berhasil menduduki ibukota Mataram pada tanggal 2 Juli 1677 di Plered dan memaksa Sultan Amangkurat I melarikan diri dan akhirnya meninggal di pengasingannya di Wanayasa Banyumas pada tanggal 13 Juli 1677.

Pembalasan Dendam Sultan Amangkurat II dan Jatuhnya Semarang ke Tangan VOC

Cornelis Speelman
Cornelis Speelman

Kekalahan Kerajaan Mataram oleh bekas jajahannya sendiri, Madura, membuat Sultan Amangkurat II merasa perlu untuk membuat perhitungan kepada Trunojoyo. Oleh karena itu, pada bulan September 1677, Sultan Amangkurat memuuskan untuk bekerjasama dengan VOC. Kemudian VOC mengirimkan laksamananya, seseorang yang pernah dipenjara selama 15 bulan dan dikenai denda sebesar 3000 gulden karena melakukan perdagangan ilegal untuk membelikan sebuah permata bagi istrinya, Cornelis Speelman.

VOC di bawah pimpinan Speelman, dengan dibantu beberapa pasukan dari Bugis dan Ambon membantu kerajaan Mataram yang sudah tidak berdaya untuk merebut kembali tahtanya. Kemudian VOC mengirim 1.500 pasukannya untuk menduduki Surabaya dan terus-menerus mengalahkan pasukan Trunojoyo dan menekan terus ke selatan. Akhirnya posisi Trunojoyo semakin terdesak dan akhirnya pada tanggal 27 Desember 1679, Trunojoyo menyerah kepada VOC di Gunung Kelud.

Setelah VOC berhasil membantu Mataram untuk menumpas pemberontakan Trunojoyo dan menghukum mati Trunojoyo sehari setelah libur tahun baru pada tahun 1680, VOC menagih hutangnya kepada Kesultanan Mataram. Karena Kesultanan kesulitan menghimpun dana sebesar dua juta gulden tersebut, maka kesepakatan baru dibuat bahwa VOC berhak memperoleh wilayah-wilayah pesisir utara pantai Jawa seperti Semarang dan Jepara.

Sesuai kesepakatan awal yang dibuat antara Sultan Amangkurat II dan VOC, akhirnya Sultan Amangkurat II bersedia melepaskan wilayahnya di pesisir utara pulau Jawa seperti Semarang kepada VOC pada tanggal 15 Januari 1678.

Semenjak itu Semarang berada di bawah kendali VOC. Untuk memudahkan pengawasan terhadap kesultanan Mataram yang baru saja dibantu oleh VOC supaya tidak terjadi lagi pengkhianatan atau perlawanan yang dilakukan oleh Kesultanan Mataram, maka VOC memutuskan untuk memindahkan ibukota wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah dari Jepara ke Semarang. Itulah asal mula mengapa kini Semarang menjadi pusat pemerintahan Jawa Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s