Culture · History

Menyelundupkan Rock ‘N’ Roll ke Uni Soviet dengan Cetakan Foto Sinar-X

“Every artist, everyone who considers himself an artist, has the right to create freely according to his ideal, independently of everything. However, we are Communists and we must not stand with folded hands and let chaos develop as it pleases. We must systemically guide this process and form its result.”

-Vladimir I. Lenin-

Kembali lagi saya hadir membahas negara sosialis terbesar di dunia ini. Rasanya negara yang sudah binasa ini tidak ada habisnya untuk kita bahas. Apabila sebelumnya saya membahas tentang sistem pemerintahan dan ekonomi di negeri tirai besi ini, kini saya akan membahas mengenai musik di Uni Soviet. 

Seperti kutipan dari bapak bangsa Uni Soviet, Lenin, yang saya dapat dari wikipedia, jelas sekali diterangkan bahwa Uni Soviet menghargai kebebasan berekspresi dalam bermusik namun harus dengan dituntun agar tidak menimbulkan kekacauan. Sudah barang tentu bahwa yang dimaksud dengan dituntun di sini tidak lain dan tidak bukan adalah dengan melakukan tindakan penyensoran.

Sensor sudah menjadi barang umum di negeri yang mencantumkan kata kebebasan di lagu kebangsaannya ini. Sebuah paradoks yang amat sangat nyata terjadi di Uni Soviet. Hal ini dilakukan untuk melanggengkan rezim komunis yang mulai berkuasa di Uni Soviet sejak tahun 1917. Sama seperti yang terjadi di Indonesia dengan rezim orde baru selama 32 tahun.

Penyensoran terhadap musik di Uni Soviet semakin menjadi-jadi setelah seorang berkebangsaan Georgia yang terkenal bengis dengan kumis tebal di wajahnya itu yang bernama Joseph Stalin mengeluarkan instruksi dan kebijakan untuk melarang musik-musik barat yang bersifat cosmopolitan dan burjois seperti Jazz, Boogie Woogie, dan Rock ‘N’ Roll beredar luas di Uni Soviet. Beberapa band Jazz dari Uni Soviet kala itu mengalami opresi dari pemerintah dan terpaksa mereka harus membubarkan band mereka.

Kemudian, bagaimana cara warga Uni Soviet supaya bisa mendengarkan musik-musik barat tersebut? Salah satu caranya adalah dengan membuat rekaman musik dari vinyl yang terbuat dari foto sinar-x.

vinyl dari foto sinar-x. Foto diambil dari Flickr oleh Edward Ellis
vinyl dari foto sinar-x. Foto diambil dari Flickr oleh Edward Ellis

Apabila Anda tidak tinggal di perbatasan, Anda akan mengalami kesulitan untuk mendengarkan musik-musik borjuis tersebut di Uni Soviet. Apalagi pada masa itu, vinyl adalah bahan yang sangat langka di Uni Soviet. Namun ada sekumpulan anak hipster dari Uni Soviet yang tidak kehabisan akal supaya tetap bisa mendengarkan musik-musik yang hingar-bingar tersebut. Sekumpulan anak hipster ini biasa disebut dengan stylyagi. 

Para stylyagi ini biasa memburu foto-foto sinar-x yang tidak terpakai lagi di rumah sakit yang jumlahnya sangat berlimpah. Kemudian mereka memotongnya dengan gunting manicure hingga memiliki ukuran yang mirip dengan piringan hitam dan melubangi piringan itu dengan api rokok yang disundutkan tepat di tengah piringan sinar-x ini. Kemudian mereka mulai menggunakan piringan yang terbuat dari limbah rumah sakit ini untuk merekam lagu yang berasal dari piringan yang asli dan mendistribusikannya ke penikmat musik hingar-bingar di Uni Soviet.

Namun hal ini tidak bertahan lama karena pada dekade 1960an, Liga Komunis Muda Lenin yang biasa dikenal dengan sebutan kosmonol mulai memburu piringan bajakan ini dan menyita piringan-piringan ini dari para stylyagi.

Pada era kepemimpinan Bung Karno, beliau juga pernah mengeluarkan kebijakan serupa untuk melarang segala musik berbau barat masuk ke Indonesia. Salah satu grup musik legendaris yang terkenal pada saat itu, Koes Plus-pun menjadi korban dari kebijakan ini. Namun apakah generasi muda Indonesia kala itu juga memiliki kreativitas seperti stylyagi? Atau hanya terdiam pasrah menerima kebijakan yang agak susah diterima akal sehat itu. Jadi memang kadang kreativitas dan imajinasi diperlukan untuk menembus batas-batas ataupun hambatan-hambatan irasionalitas seperti itu, seperti kutipan Albert Eisntein berikut ini

Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere.

 

Sumber informasi dan gambar:

fastcodesign.com – How Soviet Hipsters Saved Rock ‘N’ Roll With X-Ray Records

wikipedia.com – music in soviet union

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s