Culture · History

Perihal Perempuan Berjilbab

Di hari pertama bulan Ramadhan ini, sebelumnya saya mau mengucapkan maaf lahir batin kepada semua sanak saudara, rekan, kolega, handai taulan sekalian. Saya meminta maaf atas semua kekhilafan saya baik yang disengaja maupun tidak. Semoga selain mendapatkan berat badan yang mendekati angka ideal, di bulan Ramadhan tahun ini juga, kita bisa memperoleh limpahan rahmat dari-Nya.

Belakangan ini ada hal yang sangat mengganggu pikiran saya, yaitu mengenai bagaimana perempuan berhijab belakangan ini. Secara kuantitas, Alhamdulillah jumlah pemakai jilbab saat ini saya rasa jumlahnya sudah sangat meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun bagaimana dengan kualitasnya?

Saya baru saja diberi sebuah gambar yang agak mencengangkan oleh teman saya, teman saya menunjukkan gambar tentang seorang wanita yang mengenakan kerudung, tapi bawahannya mengenakan celana pendek sebatas pangkal paha yang biasa dikenal dengan hot pants. Komentar pertama yang keluar dari mulut saya adalah,”wah rodo pecah ndase iki!” Namun kemudian saya berpikir lagi, bagaimana kalau ternyata dia bukan seorang muslimah? Atau mungkin malah muslimin? *loh*

Jadi yang mau saya ungkapkan di sini adalah, mungkin sebagai muslim, kitalah yang perlu membuka lagi pikiran kita tentang konsep hijab itu sendiri. Pertama bahwa konsep hijab yang melindungi atau menutup tubuh dengan kerudung atau kain bukanlah monopoli kaum muslim semata. Banyak pula agama di luar sana yang mengenal konsep menyelimuti seluruh tubuh ini. Suster-suster katolik juga melindungi tubuh mereka. Perempuan-perempuan di Uni Soviet dahulu juga berkerudung padahal mereka malah tidak bertuhan (?)

Hal ini yang kemudian mengantarkan kita pada poin kedua yaitu kita harus membedakan manakah perempuan yang berhijab karena memang mereka berniat berhijab dengan sebenar-benarnya hijab dimana ia tidak menunjukkan apa-apa selain wajah dan telapak tangan, berpakaian yang longgar, bahkan hingga tidak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram. Kemudian perempuan berhijab yang sudah berniat tapi kita rasa sepertinya pengamalanya belum 100%, di mana ia sudah berhijab tapi pakaiannya masih memperlihatkan lekuk tubuh, atau masih bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram. apakah dia salah? Bukan hak saya untuk menentukan ia salah atau benar. Saya tidak mau bermain Tuhan di sini, dan saya rasa perempuan juga memiliki hak untuk mengenakan pakaian apa saja yang ia mau karena memang sudah sifat alami dari perempuan untuk ingin menjadi pusat perhatian. Dan ada pula perempuan yang menutup diri dan berkerudung tapi hanya untuk keperluan fashion belaka. Apakah salah apabila ada seorang non-muslim berbusana seperti orang muslim?

Apabila kita mau melihat persoalan ini lebih dalam lagi, dan apabila kita kaum lelaki mau berempati juga kepada kaum perempuan, ternyata tidak mudah menjadi perempuan yang mengenakan hijab. Tanggung jawab moral yang ia emban sungguh luar biasa berat. Apalagi di negara tropis dan lembab seperti Indonesia ini, pasti tidak nyaman sekali mengenakan hijab. Jadi hargailah para perempuan yang berhijab apapun niatnya.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang tidak berhijab? Apakah itu juga memberikan Anda hak untuk merendahkan mereka? Tahukah Anda bahwa saya pernah membaca laporan dari seseorang yang pernah bertugas di lokalisasi, ia mengatakan bahwa pada siang hari, ketika tidak bekerja, sebagian dari para PSK tersebut mengenakan jilbab! Jadi apakah mereka yang mengenakan jilbab itu sudah pasti jaminan bahwa perilaku mereka pasti baik sedangkan yang tidak berhijab itu tidak baik? Belum tentu kawan.

Oleh karena itu, mari bersama-sama kita berhenti saling menghakimi para perempuan di luar sana baik yang berhijab maupun tidak. Kalau dia berhijab tapi kelakuannya masih seperti itu, jangan malah suruh mereka untuk membuka jilbabnya! Sudah bagus mereka ada niatan untuk mengenakan jilbab, mungkin yang perlu kita lakukan adalah mengingatkannya saja. Sedangkan bagi teman perempuan kita yang belum berhijab tapi akhlaknya terpuji sekali, seperti misalnya puasa senin-kamis jalan terus, sedekah tidak pelit-pelit, solat sunnah seperti dhuha dan tahajjud tidak pernah putus, kita doakan saja semoga suatu hari nanti hatinya tergerak untuk mengenakan jilbab.

Ini sekedar intermezzo saja, sih. Sebenarnya seperti apa pandangan Islam tentang hijab? Well, semenjak SMA saya dibesarkan di lingkungan islam yang moderat dan condong ke liberal. Ada guru agama saya terang-terangan mengaku bahwa dia adalah seorang Islam liberal, tapi apakah saya tidak bisa mengambil ilmu darinya? Saya pribadi orangnya juga memiliki pandangan yang liberal. Jadi mengenai hijab ini ada beberapa pendapat seperti berikut:

  1. Apabila kita merujuk pada Al-Quran, ada beberapa ayat yang menganjurkan para perempuan untuk mengenakan hijab. Yaitu Al-Ahzab 59 dan An-Nisaa 31. Pihak pertama ini bahkan mewajibkan semua perempuan muslim untuk mengenakan hijab. Bahkan pendapat ini diperkuat dengan sebuah hadist dari Abu Hurairah RA yang mengatakan bahwa wanita yang berpakaian tembus pandang, nyaris telanjang dan berlenggak-lenggok menggoda laki-laki tidak akan mencium wangi surga.
  2. Apabila kita merujuk pada studi sosiologi dan antropologi masyarakat timur-tengah pada zaman dahulu, kita harus melihat bahwa hijab atau pakaian yang menutup sekujur tubuh perempuan ini sudah menjadi bagian dari masyarakat Arab tempo dulu. Jadi bagi yang berpikiran liberal seperti guru saya mengatakan bahwa tidak mengapa apabila seorang perempuan di Indonesia tidak berhijab. Kita harus bisa membedakan Agama Islam dan budaya Arab. Dan apabila kita melihat pemaparan hadist di atas, mari kita evaluasi saja, apakah Anda perempuan ketika berpakaian nyaris tembus pandang? Nyaris Telanjang? Kalau berjalan suka berlenggak-lenggok dan menggoda laki-laki lain? Apakah disebutkan kata-kata tentang hijab atau jilbab pada hadist di atas?

Jadi demikian tadi pandangan saya mengenai hijab. Lha saya ngapain ribut masalah hijab? Yang ada orang malah pada ribut kalau saya mengenakan hijab. Jadi marilah bersama-sama kita hargai perempuan baik yang berhijab maupun tidak. Saya rasa imbauan saya itu sudah bersifat universal kepada wanita yang mana kita harus hormat tanpa perlu saya sebutkan lagi usia, ras, golongan, suku, bahasa, dan lain-lain.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s