Economy and Business · History

VOC Riwayatmu Kini

Masih banyak di antara kita semua yang menyamakan VOC dengan Belanda. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Kita merasa dijajah oleh VOC karena VOC memiliki wewenang untuk menjalankan kegiatannya laiknya sebuah negara yang dilengkapi oleh tentara. Namun hakikat sebenarnya dari VOC adalah bahwa VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie, hanyalah sebuah kongsi dagang semata. Sebuah kongsi dagang milik Belanda yang didirikan di tanah air pada tahun 1602 untuk menandingi kongsi dagang milik Kerajaan Inggris yang didirikan dua tahun sebelumnya yang bernama East India Company yang didirikan di India.

Pada perkembangannya, VOC ini berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di nusantara melalui kegigihan dan kelicikannya dalam menguasai kerajaan-kerajaan yang ada di tanah air saat itu. Tercatat bahwa dahulu terdapat banyak perlawanan rakyat dan kerajaan-kerajaan di nusantara melawan pedagang kulit pucat berprajurit ini. Maluku, Banten, Mataram, Gowa-Tallo, Banjar, P. Banda, dan masih banyak lagi yang hapmpir semuanya berujung pada kekalahan di pihak penduduk asli karena VOC sering menggunakan taktik yang saya rasa sangat efektif karena tidak perlu mengorbankan banyak serdadu VOC untuk menumpas perlawanan-perlawanan dari rakyat setempat. Taktik yang digunakan adalah taktik memecahbelah atau yang biasa disebut Divide et Impera. Taktik yang digunakan juga oleh negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol ketika hendak menguasai kerajaan Aztec di México dan Inggris ketika hendak menguasai kerajaan Mughal di India. Bayangkan hanya dengan 500 orang saja, Spanyol bisa menduduki ibukota kerajaan Aztec Tenochtitlan. Sebuah kerajaan yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan lokal di sekitarnya.

Praktik-praktik penyelewengan dan korupsi banyak ditemukan di tubuh VOC. Oleh karena itu pemerintah Belanda memutuskan untuk membubarkan VOC pada tahun 1799 dan mengambil alih sendiri kegiatan operasional VOC. Maka pada tanggal 1 Januari 1800, barulah Kerajaan Belanda mulai memerintah tanah air. Dan saat itupun kekuasaan yang dikuasai Belanda belum seluas wilayah Indonesia seperti sekarang ini. Pada waktu saat itu pula Belanda masih berbentuk republik karena berada di bawah pimpinan Kaisar Napoleon dari Prancis. Itulah sebabnya mengapa tulisan yang tertera di dalam lambang Kerajaan Belanda hingga saat ini tertulis dalam bahasa Prancis Je Maintiendrai yang artinya saya akan menjaga.

Je Maintiendrai
Je Maintiendrai

Belanda menduduki satu-persatu kerajaan di tanah air dengan penuh perencanaan dan kesabaran. Barulah 105 tahun kemudian kerajaan di seluruh nusantara takluk dan tunduk kepada Kerajaan Belanda.

Lalu bagaimana dengan nasib VOC setelah dibekukan operasinya ketika hendak memasuki abad ke-19? Pasca berakhirnya masa kekuasaan Prancis di Belanda pada tahun 1814, Belanda harus mencari cara untuk mengisi kekosongan kasnya. Maka pada tahun 1824, Raja Willem I meresmikan sebuah perusahaan swasta bernama Nederlandsche Handel-Maatschappij atau NHM. NHM ini merupakan perusahaan dagang swasta yang bergerak di bidang ekspor-impor, pertanian, pengiriman barang dan jasa. Jadi boleh juga dikatakan bahwa perusahaan ini adalah kelanjutan dari VOC.

NHM kemudian berhasil menjadi satu dari lima perusahaan dagang terkemuka di Belanda maupun Hindia Belanda. Dua tahun setelah didirikan atau tepatnya pada tahun 1826, NHM membuka cabangnya di Batavia (kini Jakarta) di Hindia Belanda. kemudian NHM juga membuka cabang di Singapore, Penang, Hong Kong, dan Bombay (kini Mumbai). Bahkan untuk melayani jemaah haji dari Hindia Belanda, NHM juga membuka cabangnya di Arab Saudi pada tahun 1926. Pada tahun 1870, perusahaan ini juga merambah bisnis perbankan.

Gedung de Bazel di Amsterdam yang kini bernama de Bazel. Gedung yang dibangun pada tahun 1919-1926 ini dulunya merupakan kantor NHM di Amsterdam
Gedung de Bazel di Amsterdam yang kini bernama de Bazel. Gedung yang dibangun pada tahun 1919-1926 ini dulunya merupakan kantor NHM di Amsterdam
Logo NHM masih terpampang di pintu gedung de Bazel
Logo NHM masih terpampang di pintu gedung de Bazel

Hingga kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, perusahaan ini masih beroperasi di tanah air hingga pada tahun 1960 ketika saat itu Indonesia kembali berkonflik dengan Kerajaan Belanda perihal Papua Barat atau Irian Jaya, pemerintah menasionalisasi perusahaan ini dan mengganti namanya menjadi Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Kemudian pada tahun 1968 bank ini berubah lagi namanya menjadi bank Exim hingga akhirnya pada tahun 1999 bersama tiga bank lainnya yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia; bank ini berubah nama lagi menjadi Bank Mandiri.

Potret kantor NHM yang masih beroperasi di Indonesia pada tahun 1950 sebelum akhirnya kini berubah menjadi Museum Bank Mandiri
Potret kantor NHM yang masih beroperasi di Indonesia pada tahun 1950 sebelum akhirnya kini berubah menjadi Museum Bank Mandiri.

Lalu bagaimana dengan nasib NHM di Belanda? Mungkin setelah kehilangan asetnya yang sangat besar di tanah air, bank ini mengalami sedikit kesulitan untuk melakukan kegiatan operasionalnya sehari-hari. Akhirnya pada tahun 1964, NHM merger dengan De Twentsche Bank dan berubah nama menjadi Algemene Bank Nederland (ABN). Kemudian pada tahun 1991, ABN bergabung lagi dengan Bank Amsterdam-Rotterdam atau AMRO menjadi bank yang saya rasa namanya cukup familiar di telinga kita semua yaitu bank ABN-AMRO.

Bisa jadi apabila kita tidak merdeka hingga saat ini, mungkin gedung Museum Bank Mandiri atau kantor Bank Mandiri yang ada di jalan Empu Tantular di kawasan Kota Lama Semarang kini berubah menjadi kantor ABN-AMRO. Atau mungkin masih digunakan oleh NHM?

Sangat disayangkan sekali apabila kita melihat perusahaan penerus NHM di tanah air kini yaitu Bank Mandiri. Perusahaan NHM yang tadinya bahkan hingga saat ini berubah menjadi ABN-AMRO menjadi perusahaan multinasional terkemuka di dunia dengan total aset pada tahun 2011 sebesar 404,682 Miliar Euro. Sedangkan aset bank Mandiri pada tahun 2013 setelah digabung dengan empat bank, nilai total asetnya adalah 670 Triliun Rupiah yang kurang lebih nilainya berkisar sekitar 44 Miliar Euro. Jauh sekali perbandingannya.

Semoga dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional di masa-masa mendatang, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional dalam melakukan kegiatan ekspor-impor, dan semoga saja  permintaan untuk membuka cabang dari diaspora Indonesia dan WNI di luar negeri bisa meningkat sehingga akan mampu membuat Bank Mandiri sejajar atau bahkan bisa menyaingi ABN-AMRO dan bank-bank lainnya di luar negeri.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s