History

19 Juni 1867, Hari Terakhir bagi Kaisar Terakhir México

Tidak banyak diketahui bahwa dahulu México pernah dipimpin oleh seorang kaisar. Adalah Kaisar Napoleon III dari Prancis yang ingin memperluas hegemoni kekuasaannya hingga ke dunia baru. Oleh karena itu, beliau mengirim utusannya untuk menjadi kaisar México. Dialah kaisar Maximilian I dari Hapsburg Austria yang merupakan sekutu dari Kekaisaran Prancis.

Masa pemerintahan Maximilian I tidak bertahan lama, karena rakyat México sudah merasa muak dipimpin oleh hegemoni Eropa. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan Kaisar Maximilan I, terdapat banyak pertikaian dan konflik yang memakan korban ribuan jiwa. Untuk meredam konflik ini, Kekaisaran Prancis mengirim bala bantuan yang terdiri dari tiga kekuatan Eropa yaitu Prancis, Inggris, dan Spanyol. Namun Spanyol tidak terlalu tertarik untuk menjajah kembali negeri ini, sehingga setelah mendarat, pasukan Spanyol memutuskan untuk kembali ke negara asalnya.

Tinggalah Prancis yang bertikai dengan kekuatan militer México yang saat itu dipimpin oleh Presiden Benito Juárez. Presiden Juárez adalah presiden México yang berasal dari penduduk pribumi México dan namanya kini diabadikan sebagai bandara internasional kota México. Para masa inilah terjadi pula pertempuran lima mei (Cinco de Mayo) di Puebla pada tahun 1865 yang sering disalahartikan oleh banyak orang sebagai hari kemerdekaan México.

Akhirnya setelah bertempur sengit dengan kekuatan asing di tanah México, Kaisar Maximilian I berhasil tertangkap pada tanggal 16 Mei 1867. Berikut ini adalah penggalan surat dari Kaisar Maximilian I dari Hapsburg yang ditujukan kepada Presiden México, Don Benito Juárez:

Kaisar Maximilian I dari Hapsburg

“Sr. Don Benito Juárez :

Próximo a recibir la muerte, a consecuencia de haber querido hacer la prueba de si nuevas instituciones políticas lograban poner término a la sangrienta guerra civil que ha destrozado desde hace tantos años este desgraciado país, perderé con gusto mi vida, si su sacrificio puede contribuir a la paz y prosperidad de mi nueva Patria.

Íntimamente persuadido de que nada sólido puede fundarse sobre un terreno empapado de sangre y agitado por violentas conmociones, yo conjuro a usted, de la manera más solemne y con la sinceridad propia de los momentos en que me hallo, para que mi sangre sea la última que se derrame y para que la misma perseverancia, que me complacía en reconocer y estimar en medio de la prosperidad, con que ha defendido usted la causa que acaba de triunfar, la consagre a la más noble tarea de reconciliar los ánimos y de fundar, de una manera estable y duradera, la paz y tranquilidad de este país infortunado.

Maximiliano”

yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

“Tuan Paduka Benito Juárez

Sebentar lagi saya akan menghadapi kematian, sebagai konsekuensi atas tindakan-tindakan percobaan yang saya lakukan kepada institusi politik baru ini agar dapat menghentikan perang sipil berdarah ini yang sudah menghancurkan negara kita selama bertahun-tahun, saya akan kehilangan nyawa dengan senang hati, apabila kemudian kematian saya dapat berkontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran tanah airku yang baru.

Secara pribadi saya katakan bahwa tidak ada pondasi yang kokoh yang didirikan di atas tanah yang dibasahi oleh darah dan kekerasan, saya bersumpah kepada paduka bahwa saya memohon dengan amat sangat, dengan cara yang lebih beradab dan dengan segala ketulusan yang ada pada diri saya, bahwa semoga darah saya adalah darah terakhir yang akan tertumpah dan dengan harapan yang sama, bahwa saya merasa senang untuk mengenal dan menghargai di tengah-tengah kemakmuran, hal yang menjadi alasan anda di pertempuran yang baru saja anda menangkan ini, sebuah dedikasi tersuci untuk merekonsiliasi pemikiran-pemikiran dan pondasi, sebuah cara yang lebih stabil dan tahan lama, untuk perdamaian dan ketentraman di negara yang kurang beruntung ini

Maximilian”

Surat ini ditulis pada tanggal 18 Juni 1867 atau sehari sebelum beliau dieksekusi. Pada saat akan dieksekusi keesokan harinya, beliau memohon kepada para eksekutornya supaya tidak menembaknya di kepala. Beliau tidak ingin orang tuanya melihat wajahnya hancur ketika jenazahnya kembali dipulangkan ke Austria. Beliau sempat memberikan sejumlah uang kepada eksekutornya dan sang eksekutor mengambil uang tersebut. Namun tetap saja sang eksekutor menembaknya di kepala. Ketika dieksekusi, usia beliau masih 34 tahun.

Setelah meninggal, jenazah beserta istrinya Charlotte dipulangkan ke Austria dan ada pula kisah yang mengatakan bahwa Charlotte mengalami gangguan jiwa setelah kembali ke Austria. Keluarga kerajaan yang malang.

Kegagalan Kaisar Napoleon III untuk memperluas pengaruhnya di benua Amerika inilah yang kelak akan berkontribusi juga pada kalahnya Prancis dalam perang melawan Jerman pada tahun 1870-1871 yang akhirnya juga membuat Kaisar Napoleon III terusir dari tanah airnya.

Dan tepat pada hari terbunuhnya Kaisar Maximilian I dari Hapsburg ini juga bertepatan dengan hari di mana saya juga diberhentikan dari pekerjaan saya dengan sebuah perusahaan México…

 

Sumber:

http://historiamexico.tumblr.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s