History

Kemiripan Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Mexicano

Setelah membahas keunikan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Tokyo yang tahun ini akan genap berusia 100 tahun, kini saya kembali membahas keunikan dari dua stasiun yang ada di Jakarta dan Kota México yang dipisahkan oleh samudra pasifik yang melintasi 12-13 zona waktu. Mungkin bisa dibilang saya agak memaksakan pendapat saya, tapi saya merasa bahwa kedua bangunan ini memiliki langgam yang hampir mirip. Keduanya merupakan stasiun ujung yang megah dan memiliki lobby yang berbentuk seperti huruf “T” terbalik. Stasiun yang saya maksud di sini adalah Stasiun Tanjung Priok di Jakarta dan Stasiun Mexicano di Kota México.

Stasiun Tanjung Priok (kiri) dan Stasiun Méxicano (kanan)
Stasiun Tanjung Priok (kiri) dan Stasiun Méxicano (kanan)

Stasiun Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia

Stasiun Tanjung Priok dibangun pada tahun 1913 oleh Salah satu maskapai kereta api swasta terkemuka di Hindia Belanda kala itu yaitu Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang berkantor pusat di Jalan Bodjong Semarang yang kini kita kenal dengan Jalan Pemuda. Sedangkan bangunan kantor pusat yang dimaksud kini terkenal dengan julukan Lawang Sewu. Di kemudian hari, pemilik jalur ini berpindah tangan ke maskapai swasta yang lain Staats Spoorwegen (SS). Ada pula yang mengatakan bahwa stasiun ini dibangun pada dibangun pada tahun 1930an dan sudah didirikan oleh Staats Spoorwegen.  Stasiun ini dibangun oleh 1.700 pekerja dan 130 diantaranya berkebangsaan Eropa. Stasiun mengadopsi gaya Art-Deco yang sedang populer kala itu. Bagi saya, Stasiun Tanjung Priok adalah stasiun besar termegah di Indonesia. Stasiun ini memiliki delapan peron yang konon katanya digunakan sebagai persinggahan para penumpang yang hendak berlayar melalui pelabuhan Tanjung Priok.

Salah satu ciri khas bangunan art deco adalah dominasi warna abu-abu dari batu dan cat putih menyala yang membalut dinding-dinding tebal bangunan dan adanya ukiran-ukiran yang indah di setiap sudutnya yang memberikan kesan gagah pada ciri bangunan ini.

Salah satu ciri khas bangunan art deco seperti yang bisa kita lihat pada loket adalah dominasi warna abu-abu dari batu dan cat putih menyala yang membalut dinding-dinding tebal bangunan dan adanya ukiran-ukiran yang indah di setiap sudutnya yang memberikan kesan gagah pada ciri bangunan ini.

Suasana di dalam peron stasiun Tanjung Priok

Suasana di dalam peron stasiun Tanjung Priok yang memiliki desain elegan khas langgam stasiun-stasiun Eropa.

Ciri dari bangunan art deco adalah banyaknya lengkungan seperti ini yang umum kita jumpai di bangunan dengan langgam serupa. Bahkan stasiun Jakarta-Kota juga memiliki lengkungan seperti ini.

Ciri lain dari bangunan art deco adalah banyaknya lengkungan seperti ini yang umum kita jumpai di bangunan dengan langgam serupa. Bahkan stasiun Jakarta-Kota juga memiliki lengkungan seperti ini.

Setelah kemerdekaan RI hingga akhir abad ke-20, stasiun ini nyaris terbengkalai hingga pernah tidak berfungsi sama sekali. Kemudian November 2008, dimulailah proyek renovasi besar-besaran untuk menghidupkan kembali stasiun yang mempesona ini. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 2009, Stasiun ini diresmikan kembali oleh Presiden Yudhoyono.

Stasiun Mexicano, Kota México, México

Stasiun kereta api Mexicano dibangun untuk menghubungkan kota México dan Veracruz yang berjarak 423 km. Stasiun ini pertama kali diresmikan pada tanggal 1 januari 1873 oleh Presiden Sebastián Lerdo de Tejada. Perjalanan dari Kota México ke Veracruz pada masa itu membutuhkan waktu 17 jam 40 menit.

Stasiun Mexicano

 

Gambar di atas diperkirakan merupakan gambar stasiun Mexicano yang kemungkinan diambil pada tahun 20an. Stasiun ini terletak di belakang monumen Christoper Colombus karya Manuel Vilar yang diletakkan di sana sampai dengan tanggal 12 Oktober 1892. Monumen tersebut hingga kini masih berdiri di sana, di lokasi yang sama.

Suasana di dalam Stasiun Mexicano

Pada tahun 1910, terlihat gerbong yang biasa digunakan oleh presiden Porfirio Díaz untuk bepergian. Stasiun Mexicano beroperasi laiknya perusahaan swasta hingga tahun 1946 dan kemudian berubah sebagai perusahaan milik negara. Pada tahun 60an, stasiun ini dirobohkan.

Monumen Christopher Colombus tampak belakang

Monumen Christopher Colombus tampak depan

Seperti bisa dilihat pada gambar di atas, walaupun tokoh yang diusung di monumen ini sama, namun posenya berbeda. Patung Christopher Colombus yang ini didesain oleh seniman berkebangsaan Prancis bernama Carlos-Enrique Cordier. Bisa dilihat sekarang bahwa napak stasiun Mexicano sudah hilang, lenyap, tak berbekas.

 

Sumber informasi dan gambar:

es.wikipedia.org – Monumento a Colón

gemalaputri.blogspot.com – Ngumpet-ngumpet di Stasiun Tanjung Priok

id.wikipedia.org – Stasiun Tanjung Priok

indonesianheritagerailway.com – Stasiun Kleine Boom

kaskus.co.id – 13 foto kawasan Tanjung priok tempo dulu

mexicomaxico.org – Las Estaciones de Ferrocarril de la Ciudad de México

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s