Book Review · History

Terbangun dari Indoktrinasi

Tidak ada “sejarah yang bengkok” dan tidak ada pula “sejarah yang lurus”. Bangsa ini tidak akan pernah belajar jika berupaya “meluruskan sejarah”, karena sejarah hanyalah tafsir dominan atas serangkaian peristiwa oleh pemenang dalam pertarungan politik. Karena itu, biarkan sejarah 1965-dan sejarah kemudiannya-tetap bengkak-bengkok.

-Halaman 89-

Baru saja saya membaca novel berjudul Pulang, sebuah novel sangat apik yang ditulis oleh Leila S. Chudori yang menceritakan tentang bagaimana seseorang yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa tahun 1965 harus merasa menderita sehingga sang tokoh utama-yang kebetulan namanya mirip dengan saya- harus meninggalkan tanah air bersama ketiga rekannya untuk berlindung dari kejaran tentara saat itu yang seperti mendapat pengesahan untuk melibas PKI dan semua yang terafiliasi dengannya hingga ke akar-akarnya. Kesan yang saya dapat dari buku itu adalah bahwa sebenarnya PKI itu tidak semuanya kejam. Bahkan perlakuan yang mereka terima setelah pemerintah saat itu mengeluarkan keputusan bahwa PKI adalah partai yang terlarang di Indonesia juga tidak kalah kejamnya dengan apa yang didoktrinkan pemerintah kepadaku ketika aku masih kecil dan semua yang pernah merasakan bersekolah pada masa orde baru selama 32 tahun.

Pengakuan Algojo 1965
Pengakuan Algojo 1965

Mungkin orang tua teman-teman yang cukup “beruntung” bersekolah pada tahun 1965. Kakek atau nenek kalian juga yang pernah melalui periode penting dalam sejarah nusantara ini. Apabila teman-teman ingin mengubah makan malam keluarga yang hangat menjadi mencekam, coba tanyakan ke orang tua atau kakek dan nenek kalian, apa yang kakek, nenek, bapak atau ibu lihat pada tahun 1965? Tidak perlu menyebutkan tanggal maupun bulan. Hanya tahunnya saja. Karena saya yakin, orang tua kita yang kala itu masih bersekolahpun pasti lupa tanggal berapa peristiwa berdarah yang hampir terjadi di seluruh penjuru tanah air itu terjadi. Tapi mereka pasti tidak akan lupa dengan apa yang mereka lihat kala itu. Lagi, apabila teman-teman beruntung, mereka akan bersedia menceritakan pemandangan menyeramkan apa yang mereka lihat pada tahun 1965. Namun sayangnya ada juga beberapa keluarga yang menutup-nutupi apa yang mereka lihat pada tahun 1965.

Ya, Buku Pengakuan Algojo 1965 menceritakan sebuah peristiwa sejarah yang tidak pernah diceritakan oleh guru-guru kita di sekolahan. Padahal guru-guru kita yang berusia di atas 50 tahun mungkin juga menjadi saksi hidup atas peristiwa itu. Namun pemerintah tidak akan mengizinkan mereka menceritakan apa yang mereka lihat ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dahulu. Alih-alih, pemerintah ingin agar guru-guru menceritakan apa yang mereka lihat menurut versi pemerintah. Selama aku duduk di bangku SD, akupun selalu dicekoki kisah-kisah kekejaman PKI dengan berbagai medium termasuk melalui medium paling epik pada saat itu yaitu film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu diputar di semua stasiun swasta pada tanggal 30 september untuk memperingati hari kesaktian pancasila yang jatuh sehari sesudahnya. Namanya juga masih anak-anak, aku tidak tertarik dengan film itu dan aku tidak pernah menonton film itu sampai habis. Baru saja aku tahu bahwa ternyata film itu berdurasi tiga setengah jam.

Buku ini berkisah tentang pengakuan algojo yang menggunakan dalih menjaga kedaulatan bangsa dan mempertahankan NKRI, dengan tanpa belas kasihan mereka turut serta dalam upaya pemerintah untuk menumpas PKI hingga ke akar-akarnya. Ada yang tidak merasa bersalah sama sekali atas perbuatan sadistik mereka, ada yang merasa bersalah bahkan sudah meminta maaf pada keluarga korban, ada pula yang tersulut emosinya karena motivasi dendam dan ada juga yang hingga terusik jiwanya karena menjalankan “tugas suci” dari pemerintah tersebut.  Jadi menurutku apa yang digambarkan di Museum Peringatan G30S/PKI yang terletak di Lubang Buaya tidak semuanya salah. PKI memang dalam beberapa kesempatan melakukan tindakan provokatif seperti penganiayaan dan pembunuhan beberapa tokoh agama. Maka ibarat api yang sedang menyala, keputusan pemerintah untuk melarang didirikannya PKI dan menumpas kader-kader PKI hingga ke akar-akarnya bagaikan minyak yang disiramkan ke atas bara api yang sedang menyala tadi.

Masih ingat kan apa yang diceritakan pemerintah melalui guru-guru kita di sekolah dulu? Guru-guru kita hanya menceritakan bahwa PKI itu tidak ber-Tuhan, kejam dan sadis. Tapi entah sifat kritis kita dihilangkan atau bagaimana, pernahkah kita mencoba mengkritisi balik pernyataan guru-guru kita  tadi dengan balik bertanya,”lalu PKI ditumpas dengan cara bagaimana, pak Guru?”

Oleh karena itu, buku ini seperti membangunkanku dari indoktrinasi pemerintah selama orde baru dan juga sekaligus melengkapi kepingan-kepingan sejarah yang ingin pemerintah coba hilangkan dan sembunyikan dari kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s