Book Review · History

Fragmen Kecil Perang Dingin di Indonesia

Suatu hari terjadi kehebohan kecil di antara teman-temanku karena namaku dijadikan tokoh utama di dalam sebuah novel karya Leila S. Chudori berjudul “Pulang”.

Pulang
Pulang

Siapa sangka, Indonesia yang masih belia dan polos di usianya yang akan beranjak ke usia 20 ini sudah memikat para negara hidung belang di luar sana yang ingin memerkosa Indonesia dengan ideologi mereka masing-masing. Keduanya sama-sama menawarkan kebebasan dan perlindungan. Indonesia yang pada saat itu benar-benar bak gadis perawan yang sedang bingung memutuskan dengan siapa dia akan menambatkan hatinya. Kepada kapitalis, kah? Atau sosialis? Dua-duanya tampak meyakinkan. Dan bak perempuan yang takut kehilangan para pemujanya, akhirnya Indonesia mencampuradukkan semua ideologi tersebut. Maka munculah istilah yang terdengar aneh sekali seperti Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Jelas-jelas agama adalah candu bagi komunisme, tapi ya begitulah apabila sedang dirundung perasaan gundah gulana. Susah sekali untuk memilih…

Tak pelak pada tahun 1965, kita tidak bisa luput dari pertempuran pemikiran antara Karl Marx dan Adam Smith di tanah air, yang tak jarang juga berujung pada pertengkaran fisik yang sering meminta korban jiwa. Akhirnya pihak kapitalis berhasil merenggut kepolosan gadis muda bernama Indonesia ini dan tak lama setelah itu Indonesia memasuki era  kediktatoran militer yang biasa kita kenal dengan masa orde baru. Untuk melanggengkan kekuasaannya pihak militer merasa perlu untuk membuat semua warga Indonesia tunduk dan bersih dari segala ideologi berbau kiri. Maka genosida ideologipun dilakukan.

Buku ini berhasil menggambarkan secara jelas dan lugas mengenai apa yang terjadi di tanah air dan jakarta khususnya setelah rezim orde baru berdiri. Bagaimana rezim ini membawa pergi ribuan orang dari rumahnya dan kebanyakan dari mereka tidak bisa kembali karena terindikasi berafiliasi dengan pihak kiri dan ormas-ormasnya seperti Lekra dan Gerwani. Buku ini juga berhasil menggambarkan secara rinci penderitaan yang dialami para tahanan politik dan keluarganya baik yang berada di dalam tanah air maupun yang berada di mancanegara.

Bagaimanapun juga, buku yang bagus ini bukan berarti tanpa kritik. Seorang sastrawan dari Universitas Diponegoro, Khotibul Umam, S.S, M.Hum mengatakan bahwa gaya penulisan novel ini kurang bagus. Tidak ada perbedaan penulisan ejaan maupun pemilihan kata antara percakapan yang terjadi di tahun 60-an dengan 90-an. Saya juga merasa demikian. Masa’ tahun 1998 sudah menggunakan sapaan “bro“, setahu saya sapaan bro itu baru populer sekitar delapan tahun belakangan ini.

Namun, apabila teman-teman hanya ingin sekedar tahu situasi di tanah air setelah gerakan tiga puluh september 1965 yang selalu ditutup-tutupi oleh pemerintah orde baru selama lebih dari 30 tahun, buku ini sudah memberikan deskripsi yang cukup lengkap tentang kegarangan rezim diktator militer ini, bahwa pada masa itu begitu banyak darah tertumpah untuk mencegah dan melindungi segenap tumpah darah sisanya di seluruh nusantara agar jangan sampai jatuh ke dalam dekapan ideologi marxisme-leninisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s