History · Movie Review

Berbakti Kepada Orang Tua Melalui Kebohongan

Ada banyak cara untuk berbagi kepada orang tua. Namun sangat jarang apabila ada anak yang berbagi kepada orang tua dengan cara mengelabuhinya seperti contohnya Alexander Kerner dalam film “Good bye, Lenin!”.

Good Bye, LeninBerlin Timur, 1979. Pada masa perang dingin dimana kebencian antara barat dan timur semakin meruncing, sebuah keluarga kecil yang tinggal di seputaran Karl-Marx-Allee di kota yang menjadi garis terdepan Perang Dingin ini harus menentukan pilihan. Sang ayah ternyata memilih untuk membelot ke Berlin Barat meninggalkan seorang istri dan dua orang anak di apartemen kecil mereka di kawasan yang sering digunakan pemerintah untuk merayakan ulang tahun Republik Demokratik Jerman atau yang biasa kita kenal dengan Jerman Timur.

Membelotnya sang ayah ke barat ini meninggalkan masalah baru bagi keluarga Kerner. Polisi rahasia Jerman Timur atau Stasi terus menerus mengintogerasi sang ibu untuk mempertanyakan maksud kepergian sang ayah dan kesetiaan sang ibu terhadap Jerman Timur. “Apakah Tn. Kerner sering pernah membicarakan perihal kepindahannya ke Barat?”, “Apakah dia sering mengajak Anda untuk pindah ke barat” menjadi pertanyaan yang sering diulang-ulang oleh Stasi kepada ibunda Alex. Hal itu membuat sang ibu tertekan hingga akhirnya ia harus mendapat perawatan selama delapan minggu di pusat rehabilitasi untuk memulihkan keadaan kejiwaan sang ibu.

Sepulangnya dari pusat rehabilitasi, ada yang berubah dari sang ibu. Sang ibu menjadi lebih sosialis dari sebelumnya. Dia kini bekerja sebagai guru dan sering mengajarkan murid-muridnya menyanyikan lagu-lagu yang memuja ideologi sosialis yang penuh dengan dogma-dogma belaka. Selain itu ibunya juga mengajarkan kecintaan terhadap bapak pertiwi Jerman Timur. Beliau sering mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas dedikasinya tersebut.

Palast der Republik
Palast der Republik, Berlin Timur

Pada ulang tahun Republik Demokratik Jerman ke-40, sang ibu mendapat kehormatan untuk bertemu dengan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev di Palast der Republik. Dalam perjalanannya menuju Palast der Republik, mobilnya terhalang oleh ribuan demonstran yang menuntut kebebasan pers di Jerman Timur. Unjuk rasa, merupakan hal yang sangat tabu di negara sosialis karena hal itu dianggap kontra revolusi sehingga imbalan atas pembangkangan tersebut sering tidak mengenakkan. Bisa jadi Anda “tidak pulang” apabila terlibat dalam sebuah unjuk rasa di negara sosialis. Sang supir menyarankan sang ibu untuk naik kereta bawah tanah agar bisa tiba ke Palast der Republik tepat waktu. Namun, ketika turun dari mobil, dia melihat anaknya terlibat unjuk rasa dan polisi juga sedang membawanya ke dalam sebuah truk. Hati ibu siapa yang tidak remuk melihat anaknya diangkut polisi. Karena syok, sang ibu kemudian jatuh pingsan dan tenggelam dalam koma.

Berbulan-bulan sang ibu tidak sadarkan diri. Banyak hal yang beliau lewatkan ketika larut dalam tidur panjangnya. Beliau melewatkan proses reunifikasi Jerman yang sudah terjadi secara perlahan-lahan. Dimulai dengan diperbolehkannya warga Jerman Timur bepergian secara bebas ke barat, anak sulungnya yang mulai bekerja untuk musuh bersama kaum sosialis diΒ Burger King, sementara Alex sendiri kini bekerja di perusahaan pemasangan parabola, perabot-perabot di rumah mereka yang sudah mulai berganti dengan perabot-perabot dari barat, hingga hal yang akan membuat semua penganut sosialis yang saleh di Jerman Timur terenyuh hatinya yaitu rubuhnya tembok Berlin. Tembok pembatas yang mengurung Berlin Barat selama 28 tahun.

Tak disangka, delapan bulan kemudian sang ibu tersadar dari tidurnya. Hal yang menurut dokterpun agak mustahil untuk terjadi. Kemudian sang dokter memperingatkan kepada kedua anak ini agar sang ibu bisa bertahan hidup, usahakan agar sang ibu tidak merasakan kesenangan atau kesedihan yang teramat sangat karena hal itu bisa membahayakan jantungnya. Alangkah baiknya apabila sang ibu tetap tinggal di rumah sakit. Namun sang ibu meminta pulang ke rumah.

Banyak hal berubah ketika sang ibu koma selama delapan bulan. Jerman Timur sudah berada di ujung kepunahannya. Hal ini tentu saja akan mengejutkan hati sang ibu apabila sang ibu mengetahuinya. Oleh karena itu segala daya upaya dilakukan oleh Alex untuk memenuhi keinginan ibunya untuk pulang dan merekayasa situasi di dalam rumah agar kembali seperti pada masa-masa dahulu ketika bayangan akan punahnya Jerman Timur belum terpikirkan oleh siapapun, termasuk oleh Alex sendiri.

Bagaimana cara Alex mengembalikan keadaan seolah-olah dia dan keluarga kecilnya masih berada di Jerman Timur? Silakan tonton sendiri filmnya.

One thought on “Berbakti Kepada Orang Tua Melalui Kebohongan

  1. Salah satu film yang berkesan. Dulu menontonnya waktu kursus bahasa Jerman di Giessen. Waktu itu ga begitu ngerti dialog2nya. Tapi cukup mengerti jalan ceritanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s