History

21 Mei 1998, Hari Terakhir Orde Baru

1997

Pada kala itu ada peristiwa unik yang menarik perhatianku. Sebenarnya peristiwa ini terjadi setiap lima tahun sekali, namun pada tahun 1997 lah aku menyaksikan pemilu pertamaku sepanjang hidupku. Pada kala itu hampir setiap hari berita malam TVRI yang disiarkan di seluruh stasiun televisi setiap pukul 19.00 memutarkan jingle Pemilu yang lama. Jingle pemilu yang lama menurutku lebih indah daripada jingle pemilu yang baru. Padahal kala itu Indonesia berada pada masa-masa kediktatoran militer yang mengontrol hajat hidup orang banyak termasuk pada pilihan pemilu. Namun lagu pemilu lama yang dengan nada melengking dan terus meninggi seolah-olah menunjukkan bahwa rakyat benar-benar menanti dan menunggu datangnya pemilu. Bahkan Slank-pun pernah menyanyikan lagu ini.

Pada Pemilu 1997 juga aku pertama kali melihat orang dengan sembarangan melanggar lalu lintas, bertindak urakan, memainkan gas kendaraan mereka dengan nada tertentu dan beseragam dengan warna yang sama mewakili partai yang mereka pilih. Peristiwa itu dinamakan kampanye. Aku sangat takut sekali apabila para peserta kampanye melintas karena mereka tampak seperti orang yang tidak bisa dikendalikan walaupun sebenarnya kampanye itupun sudah di atur oleh pemerintah.

Pemilu 1997 baru saja berakhir dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Tiga partai, tiga-tiganya mengusung Presiden Soeharto sebagai calon presiden, maka sudah jelaslah siapa yang keluar sebagai pemenang kala itu. Saat itulah masa jabatan presiden Soeharto ke-7 dimulai dengan dibantu oleh kabinet pembangunan VII. Siapa sangka bahwa pemilihan umum 1997 akan menjadi pemilu terakhir bagi Presiden Soeharto.

Tak lama setelah presiden Soeharto terpilih lagi, datanglah krisis ekonomi yang menerpa seluruh negara di ASEAN yang dimulai dari Thailand. Ya,  krisis ekonomi dan moneter 1997 adalah krisis ekonomi pertama yang aku alami dalam hidupku. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar di sebuah sekolah swasta yang terletak di jantung kota Semarang. Keadaan saat itu tidak menentu di mana-mana, stabilitas nasional yang selama rezim orde baru dipertahankan dengan berbagai macam cara baik dari yang manusiawi hingga menggunakan cara yang tidak memerhatikan asas praduga tak bersalah dan perikemanusiaan.

Aku tidak melihatnya, tapi aku mendengarnya setelah rezim terlama yang pernah berkuasa di nusantara ini tumbang bahwa demi alasan stabilitas dan keamanan nasional, banyak orang yang hilang secara tiba-tiba atau ditemukan terkapar tidak bernyawa di ruang-ruang publik. Yang aku benar lihat dan rasakan berbeda di akhir rezim orde baru adalah munculnya kolom kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar di harian-harian yang terbit kala itu baik nasional maupun lokal. Hal yang tidak pernah ada sebelum krisis itu menerpa tanah air karena sebelumnya pemerintah juga ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ialah IMF yang memberikan resep “mujarab” itu untuk melepaskan pergerakan harga nilai tukar rupiah terhadap dolar kepada pasar dan harga dolar meroket tak terkendali. Kolom pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar di surat-surat kabar itulah yang kini menjadi warisan krisis moneter 1997.

1998

Kala itu pemerintah menghimbau agar perayaan pergantian tahun dilaksanakan dengan cara yang sederhana karena situasi negara saat itu sedang memrihatinkan. Tahun sudah berganti, namun krisis tak kunjung surut. Harga-harga ikut naik tak terkendali. Yang sangat aku ingat adalah pada zaman orde baru yang terdokumentasi dengan baik di dalam lagu rap Sweet Martabak yang berjudul Borju bahwa harga mobil kala itu apabila melebihi Rp 100 juta, sudah dikategorikan sebagai mobil mewah. Karena pada masa itu harga mobil berada pada kisaran Rp 40 jutaan. Namun karena krisis, harga mobil baru semua jenis melambung hingga melewati harga Rp 100 juta.

Pemerintah juga seolah-olah sudah kehilangan kendali atas rakyatnya. Gelombang demonstrasi terjadi di mana-mana. Tak terkecuali di Semarang. Namun untungnya gelombang demonstrasi di Semarang tidak berujung anarkis. Aku masih mengingat jelas bahwa ada ribuan massa turun ke Jalan Pandanaran kala itu yang meneriakkan berbagai macam slogan yang meminta agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden RI. Aku masih ingat dahulu ada iklan sebuah rokok yang memajang gambar kakek tua, dan pada saat berdemonstrasi, aku melihat ada orang yang mengganti gambar kakek tua itu dengan gambar Presiden Soeharto. Tindakan tadi pada masa kedigdayaan orde baru sudah dianggap sebagai tindakan subversif atau makar yang bisa berujung pada tindak pidana. Masyarakat kini sudah tidak merasa takut lagi dengan pemerintah.

Abangku yang kala itu bersekolah di Cikarang pun terpaksa diliburkan karena situasi di ibukota semakin tidak menentu. Biasanya kereta-kereta yang diberangkatkan dari Stasiun Gambir, kini kereta-kereta tersebut diberangkatkan Stasiun Manggarai. Dia melihat kepanikan yang luar biasa di Stasiun Manggarai. Terjadi gelombang eksodus besar-besaran dari warga keturunan Tiong Hoa yang ingin pergi meninggalkan Jakarta kala itu. Dia bahkan menggambarkan suasananya mirip seperti film yang disutradarai oleh Steven Spielberg yang berjudul Schindler’s List. 

Gelombang demonstrasi semakin hari semakin membesar. Mahasiswa dari berbagai elemen, universitas dan kota membanjiri Jakarta. Puncaknya adalah ketika para mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR RI di kawasan Senayan. Beberapa bahkan berhasil memanjat atap gedung tersebut. Beberapa insinyur saat itu mengkhawatirkan kekuatan gedung itu yang sewaktu-waktu bisa runtuh apabila menerima beban berlebih dari para demonstran karena struktur atap Gedung DPR/MPR RI dibuat menyerupai sirip pesawat, sehingga ketebalan atap gedung tersebut hanya 15cm.

21 Mei 1998

Inilah puncak dari semua kekacauan yang tampaknya tidak berkesudahan. Aku lupa pada hari kamis itu sedang tanggal merah atau sekolahku juga diliburkan, tapi yang jelas aku masih ingat betul bahwa aku tidak pergi ke sekolah pada hari itu. Pagi itu tidak ada yang terasa janggal di rumah. Yang lain masih beraktivitas seperti biasa. Namun tiba-tiba ketika aku sedang menonton TV pada sekitar pukul 10.00, ketika itu ada breaking news yang disiarkan serempak di semua stasiun televisi. Ya, breaking news tadi tidak lain memberitakan berita pengunduran diri Presiden Soeharto. Aku masih ingat siaran itu diulang berkali-kali sepanjang hari kamis itu seolah-olah ingin mengabarkan pada seluruh rakyat Indonesia bahwa rezim orde baru sudah berakhir. Mundurnya presiden Soeharto disambut meriah oleh para mahasiswa. Pada hari itu televisi menampilkan gambar seolah-olah para mahasiswa sedang menonton bola dan ketika presiden Soeharto menyatakan mundur, mereka bersorak seolah-olah tim kesayangan mereka mencetak gol.

Aku merasa di masa Reformasi yang pada hari kamis itu masih berumur beberapa jam, keadaan seolah sudah mulai membaik. Berita malam dan dunia dalam berita sudah tidak disiarkan lagi di stasiun-stasiun televisi swasta malam itu. Pada malam itu aku tertidur dan terlelap di sebuah zaman baru bernama reformasi yang dipiloti oleh seorang presiden lulusan Aachen, Jerman. Beliau adalah Presiden Bacharudin Jusuf Habibie. Walaupun beliau presiden ke-3 RI, namun bagiku beliau adalah presiden ke-2 karena sedari lahir aku sudah berada pada rezim orde baru. Ada perasaan aneh ketika pertama kali mengetahui bahwa kita memiliki presiden baru. Presidenku yang baru ini memiliki postur yang lebih kecil dari pendahulunya. Saat itu ada keraguan dari dalam diriku apakah beliau bisa memimpin negeri yang begitu besarnya dan dengan masalah yang begitu kompleksnya?

Setelah 21 Mei 1998

Kehidupan berangsur-angsur sudah kembali pulih namun kini dengan harga barang yang tidak sama dengan setahun yang lalu. Kurs rupiah terhadap dolar masih membumbung setinggi langit kala itu. Bahkan Rupiah pernah hampir menyentuh level Rp 20.000 per dolarnya.

Aku mulai kembali lagi masuk sekolah dengan pemandangan yang sedikit berbeda. Sekolah sudah menurunkan foto-foto Presiden Soeharto yang baru saja diperbaharui setelah beliau dilantik lagi ke-7 kalinya dengan foto-foto Presiden B.J. Habibie. Yang lucu adalah tidak ada foto baru Presiden B.J. Habibie yang dipajang di seluruh kelas di sekolahku. Pihak sekolah hanya memindahkan foto Presiden B. J. Habibie yang masih bergelar wakil presiden dari sisi kanan ke sisi kiri seolah-olah ada firasat bahwa tidak akan lama presiden B. J. Habibie memimpin negeri ini. Dan ternyata betul, 512 hari kemudian beliau sudah digantikan lagi oleh Presiden Abdurrahman Wahid setelah pidato pertanggungjawabannya ditolak pada Sidang Istimewa MPR.

Bagaimana denganmu, apakah kamu ingin berbagi cerita denganku mengenai apa yang kamu alami pada tanggal 21 Mei 1998? Silakan berbagi bersama kita semua. Pasti akan menarik apabila kita bisa mendengar cerita baru darimu mengenai dimana dan apa yang terjadi kepadamu di akhir rezim orde baru?

 

One thought on “21 Mei 1998, Hari Terakhir Orde Baru

  1. Sadis katanya negara dengan penduduk Islam terbesar tapi di negara berpenduduk islam perempuan dipijak-pijak. inilah buktinya orang Indonesia tidak punya belas kasihan, jadi wajar kalau gempa dimana-mana. Saya melihat realitas kehidupan, semua orang hanya mementingkan keuntungan diri sendiri, rakyat kecil & lemah ditindas atas nama HUKUM. hak-hak rakyat kecil diambil karena kekuasaan & ketamakan. Saya dari dulu katakan Neraka buat tentara, lihatlah Prabowo & Wiranto malah sibuk jadi Capres 2014, padahal aktor utama tragedi mei 1998 mereka, mereka membiarkan etnis tionghoa dibunuh. seperti binatang itulah yang saya lihat, tidak punya prikemanusiaan. Lihat kasus kejahatan beberapa tahun ini, begitu terharunya ada yang di mutilasi, begitu dikecam semua orang, tapi mereka tidak tau, orangtua mereka yang hidup di tahun 1998 lebih kejam & lebih sadis memperkosa gadis-gadis tionghoa. Memang masuk sorga itu gampang, hanya modal bertobat & berdoa & bertaqwa, percuma kalau mau jadi setan jadi setan saja sekalian. tiada ampun, hukum itu tajam. Saya belajar kasih disini percuma, keputusan saya tetap, hukum adalah panglima tertinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s