Culture

Apa Rasanya Kalau Kita Semua Menggunakan Waktu Indonesia Timur

ImageBeberapa tahun yang lalu, pemerintah pernah membuat wacana untuk menyatukan tiga zona waktu di Indonesia menjadi satu zona waktu dan zona waktu yang digunakan saat itu adalah Waktu Indonesia Tengah (GMT +8). Pada awalnya saya menentang penyatuan ini karena saya merasa bahwa tiga zona waktu yang kita terapkan saat ini sudah tepat. Namun setelah saya merasakan nikmatnya musim panas di luar negeri, saya sedikit berubah pikiran.

Selama bulan Mei 2012 – Mei 2013, saya berada di México bagian tengah tepatnya di Guadalajara dan Kota México. México adalah negara yang juga memiliki empat musim seperti sebagian besar negara-negara di Eropa dan Amerika Utara, namun musim dingin disana tidak seperti di Eropa yang hingga turun salju dan suhunya berada di bawah 0°C. Yang saya rasakan malah hampir tidak ada perbedaan sama sekali. Siangnyapun panjangnya juga sama seperti di Indonesia, sekitar 13 jam, namun yang berbeda adalah mereka seperti satu setengah hingga dua jam lebih lambat dari Indonesia.

Bingung? Yang saya maksud lebih lambat disini adalah, lamanya siang suatu tempat itu bisa dilihat dari lamanya waktu matahari terbit hingga waktu matahari tenggelam. Di Guadalajara, Matahari terbit pukul sekitar pukul 7.30 dan tenggelam sekitar pukul 20.30. Di Jakarta matahari terbit sekitar pukul 5.00 dan tenggelam pukul 18.00. Sama kan durasinya, 13 jam?

Mungkin apabila belum terbiasa seperti saya, agak kerepotan karena apabila kita ingin tidur awal seperti pukul 21.00, kita bisa melakukannya karena di Jakarta pukul 19.00 sudah memasuki waktu isya, jadi kita bisa tidur dengan tenang. Nah, di Guadalajara dulu, ketika saya ingin tidur awal pada pukul 21.00, saya tidak bisa melakukannya karena Isya baru dimulai pada pukul 21.30. Tapi yang enak, subuhnya di Guadalajara adalah pukul 6.00. Sedangkan pada musim dingin, karena México juga menerapkan Daylight Saving Time, waktu mereka dimundurkan satu jam pada musim dingin, sehingga waktu subuh menjadi jam 5.00, dan waktu isya menjadi pukul 20.30.

Setelah satu tahun tinggal disana, saya mulai terbiasa dan bahkan menikmati musim panas disana. Mengapa? Karena saya merasa waktu siang yang panjang itu membuat kita tidak terburu-buru apabila kita beraktivitas, apalagi ketika sedang beraktivitas di luar ruangan seperti berkemah, pergi ke suatu tempat wisata, pergi ke pantai, atau mendaki gunung. Coba bandingkan dengan di Jawa, ketika kita sedang mengadakan aktivitas di luar ruangan dan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, kita sudah mulai panik karena hari sudah mulai gelap. Iya kan?

Oleh karena itu, coba dibayangkan apabila kita memajukan waktu dua jam lebih cepat:

07.00 : baru saja selesai melaksanakan solat subuh karena adzannya baru berkumandang pada pukul 6.30

09.00 : Sudah memasuki kantor namun udara belum panas karena matahari belum lama terbit.

17.00 : Pulang kerja, adzan ashar baru selesai berkumandang dan hari masih terang sehingga kita tidak merasa lelah.

19.30 : Karena macet dan lain hal sebagainya, kita baru sampai rumah, tapi hari masih terang karena Maghrib baru berkumandang pukul 20.00, jadi masih ada kesempatan untuk bermain dengan keluarga di luar rumah.

21.30 : Sudah bersiap-siap untuk tidur yang panjang hingga pukul 5 atau 6 pagi tanpa harus takut tidak ketinggalan solat Isya.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju apabila kita semua menggunakan Waktu Indonesia Timur?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s