History · Travelling

Republik Belum Genap Berusia 15 Tahun, Beliau Harus Meninggalkannya demi Tugas Negara

Ketika aku mendapat perintah kantor untuk berdinas di Ibukota México, Kota México, aku tidak menyiakan kesempatan untuk berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. Hampir empat bulan lamanya aku tidak bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan mulutku sendiri. Akhirnya kudapatkan alamat KBRI Kota México dari seorang antropolog Indonesia yang sudah tinggal 10 tahun di kota tersebut yang oleh warga sekitar biasa juga disebut DF atau Distrik Federal (Distrito Federal). Mas Fitra, nama antropolog tersebut, mengatakan bahwa akan ada acara buka bersama dan dia memintaku untuk menyempatkan hadir di acara tersebut.

Pintu Masuk KBRI DF México
Pintu Masuk KBRI DF México

Akhirnya pada suatu sore di bulan Agustus 2012, tibalah aku di alamat yang dimaksud. Jalan Julio Verne 27, sebuah jalan yang namanya diambil dari penulis terkenal Prancis lewat karya fiksinya yang berjudul “Mengitari bumi dalam 80 hari”. Kawasan inipun terbilang mewah dan teduh karena terletak di daerah Polanco yang merupakan salah satu kawasan elit di Distrik Federal México yang mungkin di Jakarta bisa disamakan dengan Menteng atau Pondok Indah.

Peta Indonesia di Pagar Kedutaan
Peta Indonesia di Pagar Kedutaan

Bangunan Kedutaan Besar Republik Indonesia di México besar sekali. Gedung KBRI disana merupakan rumah tiga lantai bergaya Spanyol mediterania yang memiliki pagar yang tinggi dan panjang. Saking panjang dan tingginya sampai-sampai peta Indonesia warisan Mas Fitra bisa memenuhi pagar tersebut. Hal ini berkebalikan sekali dengan Kedutaan Besar México di Indonesia yang hanya memiliki satu lantai dan terletak di sudut pojok kecil sebuah gedung perkantoran di kawasan Gatot Subroto. Padahal México itu negara yang luas sekali, tapi sayangnya tidak bisa dicerminkan oleh Kedutaan Besarnya.

Aku merasa bingung ketika hendak memasuki bangunan ini. Meskipun aku sendiri adalah warga negara Indonesia, tapi aku merasa seperti warga asing di bangunan kokoh ini. Dan saat itu tidak ada polisi atau orang yang terlihat berjaga-jaga di luar kompleks kedutaan. Karena bingung, aku mencoba mengintip sebuah lubang kecil di pagar. Tak lama kemudian dari arah berlawanan munculah sepasang mata yang berbalik bertanya kepadaku dengan bahasa Spanyol. Saat itu aku masih belum bisa berbahasa Spanyol sehingga aku tidak mengerti apa yang beliau katakan. Namun ketika aku perhatikan lagi, aku melihat lambang garuda di topi yang dia kenakan, kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya dalam bahasa Indonesia dan dia mengerti ucapanku. Kemudian akupun dipersilakannya masuk dan aku memperkenalkan diriku kepadanya, kemudian beliaupun memperkenalkan dirinya kepadaku. Akhirnya aku bisa melihat secara utuh pemilik sepasang bola mata yang mengintipku dari lubang kecil di pagar Kedutaan Besar tadi.

Beliau berasal dari Yogyakarta, kakaknya masih bekerja di perpustakaan keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau juga sempat ikut berperang demi kemerdekaan republik. Usianya kini sudah menginjak kepala tujuh, namun beliau menolak dipanggil mbah. Fisiknya pun kian lemah, tidak seperti ketika beliau masih muda dulu yang sanggup berlari menaiki dan menuruni tangga tempat beliau bekerja di Kedutaan Besar Distrik Federal México. Ya, beliau adalah pak Benny. Pegawai Kedutaan Besar Republik Indonesia di México yang sudah mengabdi selama kurang lebih 50 tahun disana.

Pak Benny
Pak Benny

Beliau adalah salah satu dari warga negara Indonesia yang paling lama tinggal di México. Indonesia telah bersahabat dengan México selama kurang lebih 60 tahun dan beliau sudah di México ketika  baru usia persahabatan Indonesia yang saat itu masih kanak-kanak juga dengan México yang sudah berusia lebih dari 100 tahun baru berusia 10 tahun. Sudah banyak yang beliau saksikan selama 50 tahun mengabdi kepada republik dari negeri di seberang samudra ini. Beliau menyaksikan bagaimana perubahan kawasan sekitar KBRI yang dahulu belum banyak gedung tinggi seperti sekarang, namun kini sudah banyak pencakar langit di sekitar kawasan KBRI. Beliau juga pernah menyambut semua presiden RI disana dari Presiden Soekarno hingga Presiden Yudhoyono. Beliau juga pernah menyaksikan bagaimana kala itu KBRI DF México didatangi puluhan mahasiswa México yang berunjuk rasa menentang invasi Indonesia atas Timor Leste pada tahun 1976. Dan masih banyak lagi cerita menarik yang saya dapatkan ketika mengobrol bersama beliau. Berikut ini adalah rangkuman cerita menarik yang saya himpun dari percakapan bersama beliau.

Tentara Jepang yang Berasal dari Korea Lebih Kejam daripada Tentara Jepang Sendiri

Beliau bercerita kepada saya bahwa beliau pernah merasakan sekolah di zaman Belanda dan Jepang. Beliau merasakan bagaimana hidup di zaman Belanda yang apa-apa serba murah ke zaman Jepang yang kejam dan serba terbatas. Beliau bercerita bagaimana galaknya tentara Jepang apabila kita tidak menuruti apa yang mereka katakan.

Jadi ceritanya beliau ini pernah menolak memakan sup yang disediakan oleh tentara Jepang yang dimasak di jerigen minyak. Mungkin jerigen itu sudah dibersihkan, namun tetap saja beliau merasa jijik untuk makan sup dari tempat itu. Akhirnya tentara Jepang tadi marah dan menghukumnya dengan hukuman fisik seperti memutari lapangan beberapa kali dan hukuman fisik lainnya. Dan yang membuat beliau heran adalah, tentara yang bertindak kejam tadi ternyata adalah tentara yang berasal dari Korea, bukan dari Jepang. Mungkin mereka mau cari muka di hadapan para perwira Jepang. Begitu sambung beliau.

Bertempur di Pertempuran Jogja Kembali Bersama Pak Harto

Beliau juga bercerita tentang kisah pertempurannya merebut kota Jogja bersama pak Harto. Dan anehnya ketika Presiden Soeharto berkunjung ke KBRI DF México, Pak Harto masih ingat dengan sosok pak Benny yang dulu pernah bertempur bersama beliau di Jogja.

Penerjemah Pribadi Ibu Tien Soeharto

Kemampuan beliau berbahasa Spanyol rupanya membawa beliau menjadi penerjemah pribadi Ibu Tien Soeharto. Dan karena pak Benny dan ibu Tien yang sama-sama berdarah Jawa, maka pak Benny menjadi penerjemah bahasa Spanyol ke Jawa-nya ibu Tien Soeharto.

Beliau Menjadi Mata-mata RI Selama Konflik Irian Barat

Pada dekade 1960an, beliau mendapat telegram dari Jakarta yang menyatakan bahwa ada dua kapal selam Belanda yang berlabuh di pelabuhan Colima, México sebelum selanjutnya kembali berlayar mengarungi samudra Pasifik menuju Irian Barat. Karena beliau juga masih bisa berbahasa Belanda, beliau ditugasi untuk memata-matai awak dan kru kedua kapal selam tersebut yang sedang beristirahat di sebuah bar lokal disana.

Alangkah kagetnya beliau ketika mengetahui bahwa sebagian besar awak dan kru kapal selam tersebut adalah orang-orang Jawa! Sehingga beliau tidak perlu menggunakan bahasa Belandanya, cukup dengan bahasa Jawa, beliau sudah bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan seperti jumlah tentara yang dibawa, arah pelayaran, dan lain-lain.

Beliau Berteman dengan “Penghuni” KBRI DF México

Siapa sangka di negara barat seperti México, masih saja ada cerita mistis seperti ini. Cerita ini terjadi ketika ada seorang duta besar baru saja bertugas di KBRI DF México. Beliau mendengar suara orang mengetuk pintu ruangannya. Ketika dipersilakan masuk, orang tersebut tidak kunjung masuk. Karena penasaran, beliau menyusul orang tadi keluar ruangannya. Beliau melihat ada bayangan orang hendak menuruni tangga. Ketika bayanagan tadi diikuti, tiba-tiba bayangan tadi menghilang! Kemudian beliau menceritakan pengalaman tadi ke pak Benny, dan pak Benny hanya menjawab santai,”Oh, dia cuma mau kenalan sama bapak…”

Beliau menceritakan bahwa gedung KBRI tadinya merupakan rumah sebuah keluarga yang meninggalnya tidak wajar. Sehingga arwah anggota keluarga tadi masih sering menghantui staff-staff KBRI hingga sekarang. Berbagai usaha mengusir halus arwah sudah beliau lakukan, tapi tetap saja mereka kembali lagi. Sehingga beliau memutuskan untuk bersahabat saja dengan mereka.

Demikian tadi adalah kisah-kisah dari seorang anak bangsa yang tidak menikmati kemerdekaan yang dia ikut perjuangkan dahulu di tanah air. Sekarang beliau tidak bisa kembali ke tanah air karena beliau sudah beristri orang México dan sudah memiliki anak dan cucu disana. Sehingga sulit bagi beliau untuk bisa kembali ke tanah air. Dan tampaknya dari cerita-cerita beliau juga, beliau sudah kerasan tinggal disana karena beliau merasa sebagai lansia, beliau lebih diperhatikan oleh pemerintah México daripada oleh pemerintah Indonesia. Banyak tunjangan serta fasilitas yang didapat bagi warga lanjut usia disana.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga memiliki kisah luar biasa dari WNI yang merantau di negeri seberang lautan sana? Atau mungkin kamu juga tertarik meninggalkan tanah air juga seperti pak Benny? Silakan tinggalkan komentar kamu disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s