Travelling

Jangan anggap remeh kernet bus!

Cerita ini terjadi ketika aku masih jadi mahasiswa perikanan (sekarang saya sudah jadi mahasiswa ekonomi) atau kira-kira terjadi 3 tahun yang lalu.

Waktu itu, aku dan teman-temanku diundang untuk menghadiri konferensi nasional di Purwokerto yang diadakan oleh Mahasiswa Program Studi Perikanan dari Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Seminarnya bertajuk tentang “Pelestarian Segara Anakan”. Just for your Information dari yang aku dapat di seminar tersebut, Segara Anakan adalah satu diantara dua Laguna yang ada di dunia! Tanaman yang tumbuh di Segara Anakan sebagian besar adalah  tanaman Bakau atau Mangrove. Menurut Wikipedia,”Laguna (atau lagoon dalam bahasa Inggris) adalah sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Jadi, air yang tertutup di belakang gugusan karang (barrier reef) atau pulau-pulau atau didalam atol disebut laguna”. Laguna yang satu ada di Brasil dan yang satu lagi di Indonesia itu sendiri. Dan Segara Anakan terancam keunikannya karena perilaku penduduk sekitarnya. Udah ah, aku nggak mau membahas lebih dalam lagi tentang Laguna, biar anak2 Perikanan saja yang memikirkannya… hehehe…

Rombongan kami berangkat dari Semarang naik bus ekonomi ke Purwokerto. Kami berkumpul dengan teman2 yang lain di Kampus Tembalang Undip. Sebenarnya lebih enak nyegat bus dari Tembalang yang notabene terletak di Kota Atas karena lebih dekat dan itu sudah merupakan akses untuk keluar kota Semarang. Tapi karena kami ingin mendapatkan tempat duduk di bus, jadi kami memutuskan untuk nyarter angkot bareng2 dan nyegat bus dari Java Mall yang berjarak kira-kira 20 menit dari Kampus Tembalang dan harus turun bukit dulu ke kota bawah. Padahal kalo nyegat di kota atas, cuman berjarak 10 menit dari kampus tembalang.

Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan dari Purwokerto serta diselingi dengan banyak pengamen yang melakukan lagu yang sama (Ungu-Allahu Akbar), akhirnya tibalah kami di Purwokerto! Di Purwokerto kami dijemput oleh anak2 Perikanan Unsoed dan diinapkan di salah satu rumah kontrakan anak perikanan Unsoed yang cukup bersih dan nyaman. Tapi tipikal rumah kontrakan mahasiswa, kita tidak pernah disediakan makan dan kalo mau makan.. ya cari sendiri..

Diantara semua rombongan dari Undip, hanya aku dan dua orang temanku yang lain yang masih junior, sedangkan rombongan Undip yang lain udah senior. Jadi pada malam hari, kami ditinggal di kontrakan sendirian oleh para senior kami yang harus menyiapkan acara untuk keesokan harinya. Alhasil kami memutuskan untuk jalan2 menjelajahi kawasan Unsoed pada malam hari. Aku nggak nyagka lho, ternyata di Unsoed banyak juga mahasiswa dari Jakarta. Emang hebat deh anak-anak Jakarta. Demi mengejar ilmu, mereka rela mengejarnya hingga ke penjuru pelosok daerah di Pulau Jawa…

Hari ke-2, tibalah Hari-H konferensi. Konferensinya sendiri cukup rame karena dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari beberapa universitas di Jawa seperti UGM, Unpad, Universitas Panca Sakti Tegal, bahkan ada dari salah satu universitas swasta di Jakarta yang saya lupa namanya, dan lain sebagainya. Konferensinya sendiri berlangsung selama dua hari satu malam. Satu hari di Purwokerto, malamnya nginep di Baturraden, dan paginya mengunjungi Segara Anakan Cilacap untuk mengamati secara langsung apa yang terjadi di Segara Anakan. Dan benar seperti yang dikatakan oleh pembicara seminar, bahwa apabila kita mengunjungi Segara Anakan, kita tidak akan melihat sesuatu yang aneh terjadi disana. Tapi apabila kita memasuki hutan Mangrove tersebut, kita bisa menjumpai bahwa hutan mangrove tersebut gundul karena dijarah oleh warga. Padahal Mangrove sangat penting untuk tempat pemijahan ikan (baca:beranak-pinak). Dan Mangrove sangat bermanfaat untuk menahan abrasi. Bisa dibayangkan kan apa yang akan terjadi kalau nggak ada Mangrove di Segara Anakan?

Singkat cerita, setelah melalui konferensi yang cukup seru dan melelahkan tadi, kami harus kembali ke universitas kami masing2. rombongan kami memutuskan untuk kembali ke Semarang naik bus malam dari terminal bus Purwokerto ke Semarang. Setibanya di terminal, kami segera bergegas berlarian mencari bus tujuan Semarang. FYI lagi, sebenernya kita nggak perlu khawatir kehabisan bus kok, karena Terminal Purwokerto dan Semarang sama-sama besar, setiap jam pasti ada kok bus yang melayani jurusan Purwokerto-Semarang.

Ketika akan menaiki bus, kami harus berhadapan dengan penghalang pertama yaitu Kernet Bus! Rombongan kami ingin mencoba menawar si kernet dengan alasan sudah malam. Kami menawar tarif tiket bus dari 27rb pada saat berangkat menjadi 26rb! Sebenernya aku juga mikir, nawar kok nanggung banget ya? Setelah berdebat cukup panjang dengan sang kernet, akhirnya kernet menyerah juga dan mengijinkan kami serombongan untuk menaiki bus dengan membayar 250rb untuk satu rombongan! Sontak kami berteriak Hore dan mengucapkan terima kasih kepada pak kernet, karena kami berpikir bahwa rombongan kami ada 10 orang! Jadi kami hanya membayar 25rb per orang. Tapi Ternyata ketika kami akan duduk, kami menghitung kembali jumlah orang dalam rombongan kami… Ternyata kami cuma bersembilan… dan 26rb apabila dikalikan sembilan pun hanya 243rb… Jadi, kami malah harus membayar lebih mahal dari harga yang kami tawar… T.T

Pesan Moral dari kisah ini:

  1. Perhitungkan selalu jumlah rombongan yang kamu ajak ketika travelling!!!
  2. sama seperti judul, jangan anggap remeh kernet bus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s